Rekan2..
Ngomong2 ttg katak, saya ingin sedikit share ttg
“teori katak" di dunia karier,
berdasarkan kenyataan sehari hari di dunia kerja
Semoga bermanfaat
--------
Katak Machiavelli di dunia kerja
Di dalam dunia kerja , ternyata berlaku juga praktek
politik , bahkan ada bukunya Political at office ,
karena itu lah, logika Machiaveli yg sebelum ini kita
kenal di dunia politik , bisa berlaku juga di dunia
kerja , misalnya dalam ranah perkembangan karier
seorang pekerja.
Machiaveli seorang ahli politik dalam sejarah kuno
romawi, dikenal dg nasihat2 nya yg dianggap licik,
tapi ternyata efektif dalam meniti karier politik dan
"bermain" politik. Dari sisi moralitas bisa jadi
dogma2 dari Machiaveli dianggap sebagai suatu hal yg
tidak bermoral , namun berbeda pandangan dari sisi
politik praktis.
Hal yg sama ternyata bisa berlaku juga di dunia kerja
atau bisnis secara umum. Salah satu tindakan praktis
di dunia kerja yang menggunakan juga logika serupa
dikenal dg istilah perilaku katak , yg diterapkan oleh
sebagian pekerja dalam menapaki karier nya . Katak
secara karikatural / parodi digambarkan sebagai
berperilaku , ke atas menjilat ( menangkap mangsanya )
, ke samping menyikut dan ke bawah menginjak.
Sebenarnya itu hanyalah hiperbolisme semata,yg kalau
sampai katak tahu, mungkin mereka akan protes juga
kepada bangsa manusia , tapi yah itulah manusia suka
memberi gambaran jelek pada binatang , sama seperti
istilah kambing hitam. Tapi sebagian kita sudah
mafhum dg istilah demikian , dan memang benar2 ada ,
para pekerja yg berperilaku seperti itu ( karakter
katak ). Bila pekerja tersebut "bermain" politik
kantor juga , maka bisa pula kita istilahkan dengan
"Katak Machiaveli" .
Pengalaman di dunia kerja, menunjukkan bahwa
secara diametral, ada dua tipe pekerja ; Pekerja yg
kompeten, bekerja dengan dedikasi tinggi dan tulus ,
namun kurang pandai berkomunikasi , salah satu cabang
keahlian politik kantor . Di sisi lain ada pekerja yg
kompetensi teknis nya biasa2 saja, tapi
memiliki kemampuan politik kantor yg tinggi, pandai
berkomunikasi dan ahli dalam membuat intrik2.
Banyak kasus di dunia kerja, menunjukkan bahwa mereka
yang berdedikasi tinggi, ahli dan tulus,kalah bersaing
dalam perkembangan karier di bandingkan dengan pekerja
yg walau skill teknis nya pas2 an, tapi pandai
berkomunikasi dan berstrategi. Kesuksesan karier tak
selalu berhubungan dg skill teknis seorang pekerja ,
terutama pada perusahaan yg HRD system nya tak
berjalan baik atau corporate culture nya lemah..
Pada perusahaan yg memiliki corporate culture yg sehat
dan HRD system nya berjalan baik , kita istilahkan
dengan perusahaan ideal , akan lain kondisinya , di
tempat ini, pekerja yg berdedikasi tinggi, bekerja dg
tulus dan cermat, akan mendapatkan imbal balik yg
bagus juga dalam perkembangan karier nya.
Tapi perusahaan ideal tsb , bisa dikatakan hanya
minoritas dari perusahaan secara umum.
Sebuah penelitian psikologis di Amerika, yg meneliti
karakteristik perusahaan dari sisi psikologis, dg
mengumpamakan perusahaan bagaikan manusia, Setelah
mengadakan penelitian bertahun2 pada banyak perusahaan
,ia menemukan bahwa perusahaan adalah makhluk yg
psikopat ; ingin menang sendiri, cari untung yg banyak
, tak peduli dg yg lain dan berbagai karakter negatif
lain nya. Yah memang perusahaan bukan makhluk yg
bernyawa, tapi ternyata berperilaku seperti itu. Hasil
penelitian tsb dibuatkan film dokumenter dg judul "The
Corporate".
Karakter perusahaan yg seperti itu, akan klop sekali
dengan para pekerja yg memiliki karakter "Katak
Machiaveli" tersebut diatas , sehingga banyak kita
temui , bahwa banyak mereka yg sukses berkarier selain
mereka yg memang benar2 kompeten dari segi teknis dan
pandai berkomunikasi, adalah juga , mereka yg biasa2
saja dari sisi kompetensi, tapi ahli juga dalam
"politik kantor" . Banyak juga kita temui , pekerja2
yg idealis,berdedikasi tinggi dan memiliki kompetensi
teknis , tapi karier nya mentok atau bahkan frustasi ,
bahkan keluar kerja dan berpindah2 kerja dari
perusahaan ke perusahaan lain, tapi tetap saja
kariernya tak berkembang bagus.
Karakter perusahaan yg tidak sehat seperti itu
,seringkali menjadi bahan ejekan juga , sumber ketidak
puasan dari para pekerja idealis yg merasa telah
bekerja dg dedikasi tinggi, tapi perusahaan tak
memberikan balasan setimpal.
Dalam dunia kerja, bisa dipilah dua tipe pekerja,
pekerja yg sukses dan pekerja yg berbakti untuk
perusahaan. Pekerja yg berdedikasi tinggi akan
mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan perusahaan
dengan berbagai cara , ia berjuang dengan tulus dan
ikhlas , syukur bila ia berada di perusahaan yang
bagus juga budaya dan HRD system nya,ia akan
mendapatkan kompensasi dan pengembangan karier yg baik
, tapi bila berada di perusahaan yg tak sehat budaya
nya, ia akan jadi pekerja idealis yg frustasi.
Pekerja yg sukses, sejak awal masuk kerja, sudah
berpikir bagaimana caranya ia bisa sukses, dapat
jabatan tinggi, dapat gaji yg besar , fasilitas ,
training dan berbagai manfaat lain nya. Kalau mereka
memang memiliki kompetensi dan kecerdasan yg tinggi
pula , tinggal dipulas dg kemampuan komunikasi dan
keahlian sosial lain nya, ia akan jadi pekerja yg
sukses. Ada pula pekerja yg ingin sukses tapi tak
memiliki kompetensi yg memadai, akhirnya ia lebih
mengandalkan kemampuan, komunikasi, lobby dll, untuk
mencapai keberhasilan nya tersebut.
Pekerja sukses yg baik , adalah yg juga memberi
kontribusi, terhadap kesuksesan perusahaan, ada
dedikasi utk bersama, tapi ada juga mereka yg berusaha
meraih kesuksesan dg logika individualis / egois,
bagaimana caranya saya bisa sukses sendiri, apa pun
cara ditempuh, peduli amat dg rekan kerja yg lain ,
bahkan tak begitu peduli juga dengan perusahaan yg
penting dirinya bisa sukses. Ia hanya berusaha mencari
manfaat sebesar mungkin dari perusahaan, tapi
sebaliknya perusahaan tak mendapatkan manfaat yg besar
dengan keberadaan pekerja tipe tersebut. Kalau tak
didapat di suatu perusahaan ia berusaha mencari di
perusahaan lain, kita kenal pula dg istilah pekerja
kutu loncat.
Pekerja yg berusaha sukses secara individualis ini lah
yg banyak pula menggunakan logika 'Katak Machiaveli"
diatas , dalam menempuh jenjang karier nya.
Secara legal formal, mungkin sah sah saja, tak
melanggar hukum , tapi secara hubungan timbal balik
antara perusahaan dengan pekerja , perusahaan tak
mendapat manfaat banyak dg tipe pekerja seperti ini ,
bahkan bisa merusak sistem pengembangan sumber daya
manusia , merusak jenjang karier , bilamana ia
memiliki jalur karier yg zig zag, melangkahi karier
pekerja lain , menimbulkan rumor tak sedap dan
de-motivasi pada pekerja lain , bila misalnya ia
karena kemampuan lobby nya , menjadi pekerja
kesayangan bos besar.
Para pekerja di satu sisi dan perusahaan di sisi lain
, bisa kita andaikan bagaikan 2 makhluk yg
berseberangan dan ketika mereka menandatangani kontrak
kerja , saat itulah mereka bagaikan pasangan yg
menjalin janji. Perkembangan selanjutnya penuh dengan
lika liku , ada konflik seperti demo mogok kerja atau
bahkan terjalin harmonis seperti perusahaan yg bisa
mengayomi pekerjanya dg baik.
Sebenarnya perusahaan adalah juga kumpulan manusia
juga, khususnya manajemen/direktur yg mengelola
perusahaan tsb . Pengelola perusahaan yg baik, akan
berhasil juga mengarahkan semua kompetensi sumber daya
nya untuk meraih keberhasilan, keberhasilan semua
pihak, perusahaan untung dan karyawan pun bahagia.
Bila kondisi seperti itu, bisa terbangun , pekerja yg
berkarakter "Katak Machiaveli" tak akan ada, kalaupun
ada secepatnya di bina oleh HRD atau dikeluarkan
secepatnya, supaya tak merusak sistem perusahaan
secara keseluruhan.
Friday, December 21, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment