Tak terasa 2 pekan lagi ketemu idul adha...
Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1428 H
Mari qta berikan qurban yg terbaik...^_ ^
its nice story...
QURBAN TERBAIK
Oleh
Jojo Wahyudi
Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
berjualan hewan Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga
hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.
Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
yang hanya bersarung
hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak
terkecuali anak-anak
yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang
akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti,
sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak
sejak dini
tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
bertransaksi
memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk
panjang,
ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di
sekitarnya.
" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk
kambing coklat tersebut.
" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega
Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
berpromosi
matanya berkeliling sambil tetap melayani calon
pembeli lainnya.
" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
mahal" si pedagang bertahan.
" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan
menurunkan harganya.
" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu?" kataku
" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
kambing ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
dia gak bisa datang ke sini sendiri.
Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan
bakarnya bukan rumput"
kata si pedagang meledek.
Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
Tidak menawarkan harga selain
yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya
yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada
perbedaan harga lima ratus ribu.
Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
berencana ke toko ban mobil.
Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus
tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang
harganya kini selangit.
" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
kataku kemudian
" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah" katanya
Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan
harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
tetapi wajahnya masih terlihat segar.
" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
katanya kagum
" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
pedagang setengah malas menjawab
setelah melihat penampilan si kakek.
" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
negosiasi juga.
" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
terlihat semakin malas meladeni.
" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
Qurban tahun ini)
Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas."
katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan
bungkusan
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang
juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar
uang seratus ribuan
dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
dari dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
tetap bersahaja.
Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
memperhatikannya sejak tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang
menerima uang yang disodorkan si kakek,
kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang
itu.
" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
diberikannya berlebih
" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
kakek berubah menjadi mbah)
" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar
ke desa dekat itu ya),
sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
Masjid Baiturrohman,
takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo
pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti,
InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
anak-anak sudah tahu)."
Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
sepeda tua
yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak
jauh dari X-Trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan
sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.
Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
berkendara sepeda engkol,
sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk
dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
diterima setiap bulan oleh si kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak
ada rumah yang berdiri dengan mewah,
rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya
petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
gede) dan memilikinya
Yang sanggup membeli hewan Qurban dua ekor sapi
sekaligus
Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
bawah kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil
X-Trail, kendaraanku di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku
berpikir seribu kali saat membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
manusia
balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini
ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu
(Cikini, 12-11-07)
Monday, December 3, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment