Tuesday, May 18, 2010
Maju terus ITB... untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater
akhirnya saya search sama mbah google utk membuang rasa penasaran, tapi ternyata didapat data2 yg cukup menggembirakan hati saya..Ada baiknya kita melihat dari bidang perangkingannya.
ternyata engineering ITB masih menduduki 30 terbaik di Asia..
Maju terus almamaterku, tingkatkan prestasimu... buktikan kau yg terbaik..
Berikut rangking
Untuk IT dan Engineering, ITB (30), UI (50), UGM (58), IPB (93)
Untuk Natural Sciences, ITB (35), UI (44), UGM(44), IPB (61)
Untuk Life sciences & biomedicine, UGM (23), UI (27), ITB (47), Unair (66)
Info lebih detil dapat di lihat di :
http://www.topuniversities.com/university-rankings/asian-university-rankings
Tuesday, April 22, 2008
Potret Keprihatinan Pendidikan Tinggi di Batam
Potret Keprihatinan Pendidikan Tinggi di Batam
Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang sangat mulia untuk menjalankan fungsi Reaserch and Development serta arena penyemaian Sumberdaya Manusia (SDM) baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Belum genap setahun pemerintah memutuskan status hukum Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) diberlakukan menyeluruh untuk kawasan ekonomi khusus (KEK/SEZ) Batam, Rempang dan Galang (Barelang) serta nota kesepahaman (MoU) antara pemerintahan Indonesia dan Singapura untuk pembentukan zona ekonomi khusus Batam, Bintan, dan Karimun. Salah satu tuntutan FTZ adalah daya saing ekonomi. Daya saing ekonomi akan terwujud bila didukung oleh SDM yang handal. Untuk menciptakan SDM berkualitas dan handal yang diperlukan adalah pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Sebab dalam hal ini pendidikan tinggi dianggap sebagai mekanisme kelembagaan pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan.
Adanya rencana pembentukan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Kepri ini sejak beberapa kurun terakhir sudah mulai menjadi wacana publik di Batam, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Momentum pembentukan UMRAH ini merupakan saat yang tepat untuk senantiasa berkaca dan melakukan pelurusan kembali terhadap penyimpangan orientasi yang terjadi pada kondisi pendidikan tinggi di Batam secara keseluruhan.
Kondisi pendidikan tinggi di Batam saat ini cukup memprihatinkan. Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis atau komersialisasi. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Ada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.
Ditengah besarnya angka pengangguran di Batam yang telah mencapai lebih dari 23 ribu orang (data Disnaker awal tahun 2008), langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi dan kecenderungan banyak perusahaan yang melakukan perekrutan pegawai dari luar Batam mengingat SDM lokal kurang dapat bersaing dalam hal kualitas.
Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja. Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.
Lebih parah lagi, tidak bisa dipungkiri ada PTS yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom (nasib dengan IP/IPK satu koma). Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses pembodohan bangsa bukan mencerdaskan bangsa. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan hanya menjadi komoditi bisnis semata.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.
Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang sangat mulia untuk menjalankan fungsi Reaserch and Development serta arena penyemaian Sumberdaya Manusia (SDM) baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Belum genap setahun pemerintah memutuskan status hukum Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) diberlakukan menyeluruh untuk kawasan ekonomi khusus (KEK/SEZ) Batam, Rempang dan Galang (Barelang) serta nota kesepahaman (MoU) antara pemerintahan Indonesia dan Singapura untuk pembentukan zona ekonomi khusus Batam, Bintan, dan Karimun. Salah satu tuntutan FTZ adalah daya saing ekonomi. Daya saing ekonomi akan terwujud bila didukung oleh SDM yang handal. Untuk menciptakan SDM berkualitas dan handal yang diperlukan adalah pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Sebab dalam hal ini pendidikan tinggi dianggap sebagai mekanisme kelembagaan pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan.
Adanya rencana pembentukan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Kepri ini sejak beberapa kurun terakhir sudah mulai menjadi wacana publik di Batam, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Momentum pembentukan UMRAH ini merupakan saat yang tepat untuk senantiasa berkaca dan melakukan pelurusan kembali terhadap penyimpangan orientasi yang terjadi pada kondisi pendidikan tinggi di Batam secara keseluruhan.
Kondisi pendidikan tinggi di Batam saat ini cukup memprihatinkan. Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis atau komersialisasi. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Ada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.
Ditengah besarnya angka pengangguran di Batam yang telah mencapai lebih dari 23 ribu orang (data Disnaker awal tahun 2008), langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi dan kecenderungan banyak perusahaan yang melakukan perekrutan pegawai dari luar Batam mengingat SDM lokal kurang dapat bersaing dalam hal kualitas.
Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja. Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.
Lebih parah lagi, tidak bisa dipungkiri ada PTS yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom (nasib dengan IP/IPK satu koma). Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses pembodohan bangsa bukan mencerdaskan bangsa. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan hanya menjadi komoditi bisnis semata.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.
Sunday, April 13, 2008
Cerita kehidupan
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur.
Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam,
sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan
sumur juga perlu ditimbun (ditutup -karena berbahaya); jadi tidak berguna
untuk menolong si keledai. ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang
membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam
sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia
menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si
keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke
dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa
yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop
tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia
mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke
bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus
menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga
menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang
terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumurdan melarikan diri.
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran
kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'
(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari
diri kita(pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari
'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap
masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat
keluar dari'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah
menyerah! (never give up!) Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah
naik !!!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
GUNCANGKANLAH dalam diri kita, teman dan handai taulan
kita...!!!!
Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau terburuk,
inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini
Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam,
sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan
sumur juga perlu ditimbun (ditutup -karena berbahaya); jadi tidak berguna
untuk menolong si keledai. ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang
membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam
sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia
menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si
keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke
dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa
yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop
tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia
mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke
bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus
menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga
menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang
terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumurdan melarikan diri.
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran
kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'
(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari
diri kita(pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari
'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap
masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat
keluar dari'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah
menyerah! (never give up!) Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah
naik !!!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
GUNCANGKANLAH dalam diri kita, teman dan handai taulan
kita...!!!!
Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau terburuk,
inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini
Sunday, February 17, 2008
joke's..
Cerita Mengharukan
Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah,tetapi orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Lagipula ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :
Kepada
Yth
Tuhan
di Surga
Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak punya uang. Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat. Tuhan saya butuh uang Rp 20.000 utk beli obat ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Rp 10.000.
Jadi semuanya Rp 60.000
Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.
Dari:
Rio
Akhirnya..
Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak tega untuk mengembalika n suratnya. Bingung mau di kemanakan surat itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke kantor polisi terdekat.
Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun mengumpulkan dana utk diberikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul Hanya Rp 55.000,-
Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan keterangan: "Dari Tuhan di Surga" dan menyerahkan ke anak buahnya utk di kembalikan ke Rio .
Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya terkabul, walaupun yang diterima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi.
"TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI, KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,- *
Polisi: GUBRAKKKK
Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah,tetapi orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Lagipula ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :
Kepada
Yth
Tuhan
di Surga
Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak punya uang. Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat. Tuhan saya butuh uang Rp 20.000 utk beli obat ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Rp 10.000.
Jadi semuanya Rp 60.000
Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.
Dari:
Rio
Akhirnya..
Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak tega untuk mengembalika n suratnya. Bingung mau di kemanakan surat itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke kantor polisi terdekat.
Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun mengumpulkan dana utk diberikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul Hanya Rp 55.000,-
Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan keterangan: "Dari Tuhan di Surga" dan menyerahkan ke anak buahnya utk di kembalikan ke Rio .
Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya terkabul, walaupun yang diterima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi.
"TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI, KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,- *
Polisi: GUBRAKKKK
Saturday, January 19, 2008
value of time...
VALUE OF TIME
To realize the value of ONE YEAR, ask a student who failed a grade.
To realize the value of ONE MONTH, ask a mother who gave birth to a pre-mature baby.
To realize the value of ONE WEEK, ask the editor of a weekly newspaper.
To realize the value of ONE DAY, ask a daily wage laborer with kids to feed.
To realize the value of ONE HOUR, ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of ONE MINUTE, ask a person who missed the train.
To realize the value of ONE SECOND, ask a person who just avoided an accident.
To realize the value of ONE MILLI-SECOND, ask the person who won a silver medal in the Olympics.
To realize the value of ONE YEAR, ask a student who failed a grade.
To realize the value of ONE MONTH, ask a mother who gave birth to a pre-mature baby.
To realize the value of ONE WEEK, ask the editor of a weekly newspaper.
To realize the value of ONE DAY, ask a daily wage laborer with kids to feed.
To realize the value of ONE HOUR, ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of ONE MINUTE, ask a person who missed the train.
To realize the value of ONE SECOND, ask a person who just avoided an accident.
To realize the value of ONE MILLI-SECOND, ask the person who won a silver medal in the Olympics.
Monday, January 14, 2008
Segera ’Bangun’ saat Jatuh itulah entreprenuer...
Ada tips menarik ttg entreprenuer..
smoga bermanfaat...
Seorang eksekutif di perusahaan media yang sangat top, bercerita pada saya mengenai rencananya untuk meninggalkan organisasi yang sangat dicintainya itu. Padahal, ia masih sangat ‘terpakai’ dan relatif muda. Alasan utamanya adalah karena ia takut semangatnya menurun bila ia terus berada di perusahaan tersebut, tanpa bisa berkreasi dan mengambil risiko. Ia pun merasa perusahaan tempatnya bekerja mulai tua, “Doing the same thing”, katanya. Atasannya, ketika ia berpamitan, berkomentar, ”Mungkin kita-kita ini sudah mulai tua, sehingga tidak berani mengambil risiko”.
Sebagai pengamat, saya sungguh menyayangkan, melihat atasan ‘kalah’ spirit dengan anak buahnya. Padahal, untuk meneruskan perusahaan diperlukan visi agar perusahaan tetap gesit, fleksibel, fokus, memiliki horison jauh bahkan selalu futuristik. Sebagai wirausahawan, pimpinan perusahaanlah yang paling bertanggung jawab bila perusahaan mulai ‘melempem’. Atasan atau pimpinan perusahaanlah penarik pedati perusahaan untuk di bawa ke masa depan yang kian hari kian kompetitif ini.
Beberapa dekade lalu, entrepreneurship dianggap sebagai kualitas langka yang hanya dimiliki oleh pucuk-pucuk pimpinan perusahaan atau pengusaha-pengusaha. Bahkan, di beberapa perusahaan tertentu, orang-orang dengan semangat entrepreneurship tinggi, tidak diterima bekerja, karena dianggap ’membahayakan’ perusahaannya. Kekuatirannya adalah, mereka bisa melakukan ‘copy-paste’ kegiatan perusahaan, mendirikan perusahaan sejenis, bahkan menjadi kompetitor pula!
Saat ini, tanpa bisa dibendung, anak muda lebih komersial dan ‘profit oriented’. “Kalau tidak bermain dengan risiko, tidak seru!” demikian keyakinan mereka. Jiwa kewirausahaan, di mana kreativitas menjadi kompetensi, sekarang dianggap penting dalam mengembangkan bisnis. Karenanya, spirit entrepreneurship tidak boleh hanya dimiliki oleh para pimpinan perusahaan, tetapi perlu dimiliki oleh sebanyak mungkin individu dalam organisasi. Bahayanya bila entrepreunership tidak disadari keberadaannya, dan tidak secara sengaja di pelihara dalam suatu organisasi adalah: organisasi bisa cepat ‘mati muda’.
Perluas Peluang, Hitung Risiko
Dunia memang sedang didominasi oleh populasi anak muda “gen Y”. Dunia bisnis pun sedang didominasi oleh musik, hiburan, dan beberapa hal yang dikuasai oleh dunia anak muda. Inilah sebabnya semangat ‘discovery’ dan kejelian melihat peluang dari anak-anak muda ini perlu ditampung dan justru dikembangkan pada setiap karyawan.
Tidak heran lagi bila karyawan diberi kesempatan untuk membuat ‘business unit’ sendiri untuk mencobakan idenya. Ambisi karyawan yang berjiwa entrepreuner perlu ditampung. Keinginannya untuk mendapatkan ‘uang lebih’ daripada sekedar gaji pun perlu diseimbangkan dengan risiko yang ditanggung dan diperhitungkan. Bila perusahaan bisa mendapatkan untung melalui pengambilan risiko yang cermat, perhitungan yang mantap, dan pertimbangan bisnis yang tajam, mengapa tidak memberi kesempatan?
‘Passion’ yang Tak Ada Batasnya
To love what you do and feel that it matters – how could anything be more fun..? Katharine Graham.
Saya tidak tahu kapan teman anak saya, pengusaha café ,club dan restoran, beristirahat dan tidur. Malam hari ia berkeliaran di salah satu restorannya, menyapa tamu, mengontrol bar dan mencicipi makanan. Siang hari, ia berada di kantor dan mengontrol pembelian. Setiap akhir minggu, kita akan mendapatkan sms darinya pribadi mengenai event-event spesial yang sedang berlangsung di cafenya. Kecintaan pada pekerjaan memang tidak berbeda dengan mengerjakan hobi: tidak kenal waktu. Ini juga adalah rahasia para entrepreuner. Seorang entrepreuner tidak menghitung jam kerja, karena fokus totalnya adalah pada keberhasilan. Inilah sebabnya keberhasilan juga lebih di depan mata daripada orang orang yang sekedar berjiwa ‘pegawai’.
Action, Action, Action!
Beda semangat entrepreuner dengan pekerja biasanya juga terletak pada implementasi. Seorang entrepreneur tidak kenal kata menunggu atau mengobservasi saja. Dia adalah pemain dan partisipan dalam setiap kegiatan.
Semangatnya adalah ‘action’. Kesadaran bahwa problem solving dan risk taking hanya bisa dilakukan sempurna melalui komunikasi yang lancar dan terbuka, membuat para entrepreuner senantiasa mengasah ketrampilan komunikasinya. Mereka adalah ‘speaker’ sejati. Hal ini jugalah yang menyebabkan para entrepreuner ini mudah menampilkan optimisme, yang kemudian ditularkan ke lingkungan sekitarnya, yang lalu berbalik menjadi bersemangat men-support kesuksesannya.
Bagaimana dengan individu yang sudah terlanjur menjadi ‘pegawai’ dan belum pernah terpikir untuk mengarahkan diri menjadi entrepreneur? Kita tidak perlu menjadi entrepreuner. Yang perlu dikembangkan adalah semangat dan mindset-nya, karena dalam perusahaan yang maju, para ‘intrapreneur’ (eksekutif berjiwa entrepreuner) juga tetap bisa berkarya dengan leluasa.
Ciri-ciri Entrepreneur
• Semangat Berprestasi
• Sibuk Mencari Peluang
• Think Big & Whole
• Intuisi Tajam dalam Berbisnis
• Berani dan Siap Mengambil Risiko
• Toleran terhadap Ambiguitas
• Optimis dan Segera’Bangun’ saat Jatuh
• Cepat Berhitung & Mengambil Keputusan
• Terpacu untuk lebih ‘Sejahtera’
smoga bermanfaat...
Seorang eksekutif di perusahaan media yang sangat top, bercerita pada saya mengenai rencananya untuk meninggalkan organisasi yang sangat dicintainya itu. Padahal, ia masih sangat ‘terpakai’ dan relatif muda. Alasan utamanya adalah karena ia takut semangatnya menurun bila ia terus berada di perusahaan tersebut, tanpa bisa berkreasi dan mengambil risiko. Ia pun merasa perusahaan tempatnya bekerja mulai tua, “Doing the same thing”, katanya. Atasannya, ketika ia berpamitan, berkomentar, ”Mungkin kita-kita ini sudah mulai tua, sehingga tidak berani mengambil risiko”.
Sebagai pengamat, saya sungguh menyayangkan, melihat atasan ‘kalah’ spirit dengan anak buahnya. Padahal, untuk meneruskan perusahaan diperlukan visi agar perusahaan tetap gesit, fleksibel, fokus, memiliki horison jauh bahkan selalu futuristik. Sebagai wirausahawan, pimpinan perusahaanlah yang paling bertanggung jawab bila perusahaan mulai ‘melempem’. Atasan atau pimpinan perusahaanlah penarik pedati perusahaan untuk di bawa ke masa depan yang kian hari kian kompetitif ini.
Beberapa dekade lalu, entrepreneurship dianggap sebagai kualitas langka yang hanya dimiliki oleh pucuk-pucuk pimpinan perusahaan atau pengusaha-pengusaha. Bahkan, di beberapa perusahaan tertentu, orang-orang dengan semangat entrepreneurship tinggi, tidak diterima bekerja, karena dianggap ’membahayakan’ perusahaannya. Kekuatirannya adalah, mereka bisa melakukan ‘copy-paste’ kegiatan perusahaan, mendirikan perusahaan sejenis, bahkan menjadi kompetitor pula!
Saat ini, tanpa bisa dibendung, anak muda lebih komersial dan ‘profit oriented’. “Kalau tidak bermain dengan risiko, tidak seru!” demikian keyakinan mereka. Jiwa kewirausahaan, di mana kreativitas menjadi kompetensi, sekarang dianggap penting dalam mengembangkan bisnis. Karenanya, spirit entrepreneurship tidak boleh hanya dimiliki oleh para pimpinan perusahaan, tetapi perlu dimiliki oleh sebanyak mungkin individu dalam organisasi. Bahayanya bila entrepreunership tidak disadari keberadaannya, dan tidak secara sengaja di pelihara dalam suatu organisasi adalah: organisasi bisa cepat ‘mati muda’.
Perluas Peluang, Hitung Risiko
Dunia memang sedang didominasi oleh populasi anak muda “gen Y”. Dunia bisnis pun sedang didominasi oleh musik, hiburan, dan beberapa hal yang dikuasai oleh dunia anak muda. Inilah sebabnya semangat ‘discovery’ dan kejelian melihat peluang dari anak-anak muda ini perlu ditampung dan justru dikembangkan pada setiap karyawan.
Tidak heran lagi bila karyawan diberi kesempatan untuk membuat ‘business unit’ sendiri untuk mencobakan idenya. Ambisi karyawan yang berjiwa entrepreuner perlu ditampung. Keinginannya untuk mendapatkan ‘uang lebih’ daripada sekedar gaji pun perlu diseimbangkan dengan risiko yang ditanggung dan diperhitungkan. Bila perusahaan bisa mendapatkan untung melalui pengambilan risiko yang cermat, perhitungan yang mantap, dan pertimbangan bisnis yang tajam, mengapa tidak memberi kesempatan?
‘Passion’ yang Tak Ada Batasnya
To love what you do and feel that it matters – how could anything be more fun..? Katharine Graham.
Saya tidak tahu kapan teman anak saya, pengusaha café ,club dan restoran, beristirahat dan tidur. Malam hari ia berkeliaran di salah satu restorannya, menyapa tamu, mengontrol bar dan mencicipi makanan. Siang hari, ia berada di kantor dan mengontrol pembelian. Setiap akhir minggu, kita akan mendapatkan sms darinya pribadi mengenai event-event spesial yang sedang berlangsung di cafenya. Kecintaan pada pekerjaan memang tidak berbeda dengan mengerjakan hobi: tidak kenal waktu. Ini juga adalah rahasia para entrepreuner. Seorang entrepreuner tidak menghitung jam kerja, karena fokus totalnya adalah pada keberhasilan. Inilah sebabnya keberhasilan juga lebih di depan mata daripada orang orang yang sekedar berjiwa ‘pegawai’.
Action, Action, Action!
Beda semangat entrepreuner dengan pekerja biasanya juga terletak pada implementasi. Seorang entrepreneur tidak kenal kata menunggu atau mengobservasi saja. Dia adalah pemain dan partisipan dalam setiap kegiatan.
Semangatnya adalah ‘action’. Kesadaran bahwa problem solving dan risk taking hanya bisa dilakukan sempurna melalui komunikasi yang lancar dan terbuka, membuat para entrepreuner senantiasa mengasah ketrampilan komunikasinya. Mereka adalah ‘speaker’ sejati. Hal ini jugalah yang menyebabkan para entrepreuner ini mudah menampilkan optimisme, yang kemudian ditularkan ke lingkungan sekitarnya, yang lalu berbalik menjadi bersemangat men-support kesuksesannya.
Bagaimana dengan individu yang sudah terlanjur menjadi ‘pegawai’ dan belum pernah terpikir untuk mengarahkan diri menjadi entrepreneur? Kita tidak perlu menjadi entrepreuner. Yang perlu dikembangkan adalah semangat dan mindset-nya, karena dalam perusahaan yang maju, para ‘intrapreneur’ (eksekutif berjiwa entrepreuner) juga tetap bisa berkarya dengan leluasa.
Ciri-ciri Entrepreneur
• Semangat Berprestasi
• Sibuk Mencari Peluang
• Think Big & Whole
• Intuisi Tajam dalam Berbisnis
• Berani dan Siap Mengambil Risiko
• Toleran terhadap Ambiguitas
• Optimis dan Segera’Bangun’ saat Jatuh
• Cepat Berhitung & Mengambil Keputusan
• Terpacu untuk lebih ‘Sejahtera’
Just open your eyes... dude
Teman saya pernah mengajarkan, “Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah ‘Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun’. Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang berarti, “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa, akan kembali kepada Allah”. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat-saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir, dan sehebat-hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”.
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi ‘future’ benar-benar bisa membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Bhutto, banjir yang melanda kota-kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming, dan belum lagi ramalan-ramalan mengenai semakin ‘edan’-nya dunia di masa mendatang, benar benar membuat hati galau. Bagi saya, kata ‘change’ yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan “action” perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah berhadapan dengan hal-hal tak terduga. Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita?
Be “Present”
Kata ‘Present’, berarti ’hadiah’ dan juga berarti ’saat ini’. Seorang ahli time management, mengatakan bahwa ‘being present’ (keberadaan kita saat ini) adalah ‘present’ (hadiah) terbesar dalam hidup kita. ‘Being present’ berarti realistis dan sadar apa yang ada dihadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua ‘resources’ yang kita miliki. Being present atau ‘Live your Life’, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra-putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memilih sikap ‘being present’ memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak “konsen” bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien, bahkan menghadapi anak sendiri? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang di hadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telpon genggam ketika menghadapi orang secara tatap muka? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen-momen yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik-baiknya .
Kita Dibutuhkan oleh Orang Lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba-tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang sudah bersusah-senang bersama kita, adalah “kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa menikmati hidup dan menjadikan kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai, serta cobaan.
Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak, atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan atau bahkan “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita bisa memberi support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.
Niat Baik adalah Pondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkapkan misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya. Saya cukup terkejut, karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti, ”Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”,”Saya ingin anak buah saya sukses”, ”Saya ingin jadi orangtua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau ”Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup-tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih dan tidak diwarnai dengan “vested interest”, maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan, bahkan Negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi pondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul-betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan, apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi, masih ingatkah Anda film getir “Life is Beautiful” (La vita è bella) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni? Kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
“Just open your eyes. And see that life is beautiful.”(Roberto Benigni)
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi ‘future’ benar-benar bisa membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Bhutto, banjir yang melanda kota-kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming, dan belum lagi ramalan-ramalan mengenai semakin ‘edan’-nya dunia di masa mendatang, benar benar membuat hati galau. Bagi saya, kata ‘change’ yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan “action” perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah berhadapan dengan hal-hal tak terduga. Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita?
Be “Present”
Kata ‘Present’, berarti ’hadiah’ dan juga berarti ’saat ini’. Seorang ahli time management, mengatakan bahwa ‘being present’ (keberadaan kita saat ini) adalah ‘present’ (hadiah) terbesar dalam hidup kita. ‘Being present’ berarti realistis dan sadar apa yang ada dihadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua ‘resources’ yang kita miliki. Being present atau ‘Live your Life’, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra-putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memilih sikap ‘being present’ memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak “konsen” bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien, bahkan menghadapi anak sendiri? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang di hadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telpon genggam ketika menghadapi orang secara tatap muka? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen-momen yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik-baiknya .
Kita Dibutuhkan oleh Orang Lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba-tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang sudah bersusah-senang bersama kita, adalah “kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa menikmati hidup dan menjadikan kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai, serta cobaan.
Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak, atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan atau bahkan “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita bisa memberi support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.
Niat Baik adalah Pondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkapkan misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya. Saya cukup terkejut, karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti, ”Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”,”Saya ingin anak buah saya sukses”, ”Saya ingin jadi orangtua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau ”Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup-tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih dan tidak diwarnai dengan “vested interest”, maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan, bahkan Negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi pondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul-betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan, apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi, masih ingatkah Anda film getir “Life is Beautiful” (La vita è bella) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni? Kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
“Just open your eyes. And see that life is beautiful.”(Roberto Benigni)
Sunday, December 30, 2007
Sambut 2008 dengan muhasabah...
Ada sedikit perenungan yang tidak sepatutnya kita abaikan..
ini diambil dr blog punya org laen..tp lumayan lah bwt dipake perenungan kita...
Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpa batas
Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi …
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU
Tuhanku …..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini…
Hati yang telah terkotori oleh noda ini…memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???
Tuhan…Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku….
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya
Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami…Ampunilah kami
Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku….Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau….dalam maksiat kepadaMU “Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!”
ini diambil dr blog punya org laen..tp lumayan lah bwt dipake perenungan kita...
Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpa batas
Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi …
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU
Tuhanku …..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini…
Hati yang telah terkotori oleh noda ini…memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???
Tuhan…Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku….
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya
Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami…Ampunilah kami
Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku….Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau….dalam maksiat kepadaMU “Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!”
Saturday, December 22, 2007
cerita kehidupan...
cerita kehidupan...
hidup tidak mengenal istirahat
dia adalah roda yang selalu berputar
bagaikan petir yang menyambar
melesat secepat kilat
tetaplah berlari ke depan
di sanalah kehidupan
masa lalu telah hilang dari pandangan
bagaikan awan setelah turun hujan
sirami jiwamu dengan air kebajikan
agar tumbuh pohon yang teduh
menaungimu dalam setiap kesulitan
karena masih jauh jalan yang akan kau tempuh
pemandangan di sana indah sekali
walaupun jalan penuh onak dan duri
tetaplah kau tempuh sepenuh hati
agar tidak menyesal ketika kau mati
hidup tidak mengenal istirahat
dia adalah roda yang selalu berputar
bagaikan petir yang menyambar
melesat secepat kilat
tetaplah berlari ke depan
di sanalah kehidupan
masa lalu telah hilang dari pandangan
bagaikan awan setelah turun hujan
sirami jiwamu dengan air kebajikan
agar tumbuh pohon yang teduh
menaungimu dalam setiap kesulitan
karena masih jauh jalan yang akan kau tempuh
pemandangan di sana indah sekali
walaupun jalan penuh onak dan duri
tetaplah kau tempuh sepenuh hati
agar tidak menyesal ketika kau mati
Friday, December 21, 2007
JANGAN CUMA "5-NG"...
8 ETOS PENDONGKRAK GAIRAH KERJA!
[JANGAN CUMA "5-NG"]
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel.
Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah
gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang
punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada
solusinya!
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya
melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli
pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma
Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja
harus diobati.
Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen,
dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu
motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja.
Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja
dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja
Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengkampanyekan
gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama: kerja adalah rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai
kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat
dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya
sepeser pun.
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja
adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda
kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman
dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan
wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah
yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita
merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.
Etos kedua: kerja adalah amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri,
atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga
mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri
menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima
amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja
sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya
korupsi dalam berbagai bentuknya.
Etos ketiga: kerja adalah panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua
adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela
kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk
membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk
menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis
menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang
kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau
profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap
pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu
kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita
kurang baik mutunya.
Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, eutah dokter, akuntan, ahli
hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang
membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara
terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat
kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh
lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa
pekenjaan.
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari
kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja,
misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa
pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama
saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?
Etos kelima: kerja itu ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua
pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini
pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara
ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti
ini:
Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu
berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang
tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat
langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang.
Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah
membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia
menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi
Tuhan bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah
berubah menjadi motivasi transendental.
Etos keenam: kerja adalah seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun,
semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita
bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang
fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia
keberhasilannya meraih penghargaan sains paling
begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati
pekerjaannya.
“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja
berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” katanya.
Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan
ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus
fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.
Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah
kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik,
maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang
kepada kita.
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta
Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja
(menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang
serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah
kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua
novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan
penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai
pengabdian kepada sesama.
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang
lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh
istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan
seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu
kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah
Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil
menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu
menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang
membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal
dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah
warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km!
Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus
menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang
sama sekali tidak ia kenal.
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai
pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan
air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa
Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras
yang giat membela kepentingan orang-orang yang
teraniaya.
“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen.
Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah
rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
* Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas
itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia
menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di
semua pekerjaan.
“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya,
orang bekerja itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal
pekerjaan itu punya banyak sisi,” katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga
mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 -
40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu
manula, dan pulang ke haribaan Tuhan. “Manusia itu
makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa
menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu
yang sangat lama,” tambahnya.
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias
pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai
dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan
terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan
aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan.
Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena
belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar
mencintai yang kita punyai dengan segala
kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih
suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang
von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but
liking the thing we have to do that makes life happy.”
“Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan
banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak
punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya
saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu
duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
ini.
Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai
macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak
menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih
banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa
untuk menjadi lebih berdaya tahan.
Bukan gila kerja
* Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu
dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.
Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut
kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas.
Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang
dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa
pekerja keras dan ulet.
Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali
berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa
membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan
waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang
workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi
kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua
pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja
keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja
melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja
bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik
melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah
memujinya jika ia menunjukkan prestasi.
Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan
kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras,
toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada
dasarnya manusia menyukai reward.
Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita
Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus.
Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan
ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK
karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga
separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu
karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja
keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk
menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka
bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang
membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan
terkuat di Jepang.
[JANGAN CUMA "5-NG"]
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel.
Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah
gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang
punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada
solusinya!
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya
melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli
pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma
Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja
harus diobati.
Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen,
dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu
motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja.
Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja
dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja
Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengkampanyekan
gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama: kerja adalah rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai
kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat
dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya
sepeser pun.
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja
adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda
kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman
dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan
wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah
yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita
merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.
Etos kedua: kerja adalah amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri,
atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga
mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri
menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima
amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja
sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya
korupsi dalam berbagai bentuknya.
Etos ketiga: kerja adalah panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua
adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela
kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk
membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk
menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis
menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang
kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau
profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap
pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu
kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita
kurang baik mutunya.
Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, eutah dokter, akuntan, ahli
hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang
membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara
terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat
kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh
lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa
pekenjaan.
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari
kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja,
misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa
pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama
saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?
Etos kelima: kerja itu ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua
pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini
pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara
ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti
ini:
Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu
berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang
tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat
langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang.
Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah
membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia
menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi
Tuhan bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah
berubah menjadi motivasi transendental.
Etos keenam: kerja adalah seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun,
semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita
bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang
fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia
keberhasilannya meraih penghargaan sains paling
begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati
pekerjaannya.
“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja
berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” katanya.
Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan
ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus
fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.
Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah
kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik,
maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang
kepada kita.
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta
Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja
(menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang
serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah
kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua
novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan
penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai
pengabdian kepada sesama.
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang
lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh
istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan
seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu
kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah
Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil
menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu
menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang
membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal
dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah
warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km!
Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus
menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang
sama sekali tidak ia kenal.
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai
pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan
air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa
Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras
yang giat membela kepentingan orang-orang yang
teraniaya.
“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen.
Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah
rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
* Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas
itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia
menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di
semua pekerjaan.
“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya,
orang bekerja itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal
pekerjaan itu punya banyak sisi,” katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga
mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 -
40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu
manula, dan pulang ke haribaan Tuhan. “Manusia itu
makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa
menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu
yang sangat lama,” tambahnya.
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias
pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai
dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan
terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan
aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan.
Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena
belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar
mencintai yang kita punyai dengan segala
kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih
suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang
von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but
liking the thing we have to do that makes life happy.”
“Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan
banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak
punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya
saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu
duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
ini.
Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai
macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak
menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih
banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa
untuk menjadi lebih berdaya tahan.
Bukan gila kerja
* Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu
dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.
Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut
kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas.
Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang
dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa
pekerja keras dan ulet.
Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali
berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa
membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan
waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang
workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi
kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua
pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja
keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja
melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja
bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik
melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah
memujinya jika ia menunjukkan prestasi.
Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan
kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras,
toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada
dasarnya manusia menyukai reward.
Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita
Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus.
Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan
ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK
karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga
separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu
karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja
keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk
menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka
bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang
membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan
terkuat di Jepang.
...Katak Machiavelli
Rekan2..
Ngomong2 ttg katak, saya ingin sedikit share ttg
“teori katak" di dunia karier,
berdasarkan kenyataan sehari hari di dunia kerja
Semoga bermanfaat
--------
Katak Machiavelli di dunia kerja
Di dalam dunia kerja , ternyata berlaku juga praktek
politik , bahkan ada bukunya Political at office ,
karena itu lah, logika Machiaveli yg sebelum ini kita
kenal di dunia politik , bisa berlaku juga di dunia
kerja , misalnya dalam ranah perkembangan karier
seorang pekerja.
Machiaveli seorang ahli politik dalam sejarah kuno
romawi, dikenal dg nasihat2 nya yg dianggap licik,
tapi ternyata efektif dalam meniti karier politik dan
"bermain" politik. Dari sisi moralitas bisa jadi
dogma2 dari Machiaveli dianggap sebagai suatu hal yg
tidak bermoral , namun berbeda pandangan dari sisi
politik praktis.
Hal yg sama ternyata bisa berlaku juga di dunia kerja
atau bisnis secara umum. Salah satu tindakan praktis
di dunia kerja yang menggunakan juga logika serupa
dikenal dg istilah perilaku katak , yg diterapkan oleh
sebagian pekerja dalam menapaki karier nya . Katak
secara karikatural / parodi digambarkan sebagai
berperilaku , ke atas menjilat ( menangkap mangsanya )
, ke samping menyikut dan ke bawah menginjak.
Sebenarnya itu hanyalah hiperbolisme semata,yg kalau
sampai katak tahu, mungkin mereka akan protes juga
kepada bangsa manusia , tapi yah itulah manusia suka
memberi gambaran jelek pada binatang , sama seperti
istilah kambing hitam. Tapi sebagian kita sudah
mafhum dg istilah demikian , dan memang benar2 ada ,
para pekerja yg berperilaku seperti itu ( karakter
katak ). Bila pekerja tersebut "bermain" politik
kantor juga , maka bisa pula kita istilahkan dengan
"Katak Machiaveli" .
Pengalaman di dunia kerja, menunjukkan bahwa
secara diametral, ada dua tipe pekerja ; Pekerja yg
kompeten, bekerja dengan dedikasi tinggi dan tulus ,
namun kurang pandai berkomunikasi , salah satu cabang
keahlian politik kantor . Di sisi lain ada pekerja yg
kompetensi teknis nya biasa2 saja, tapi
memiliki kemampuan politik kantor yg tinggi, pandai
berkomunikasi dan ahli dalam membuat intrik2.
Banyak kasus di dunia kerja, menunjukkan bahwa mereka
yang berdedikasi tinggi, ahli dan tulus,kalah bersaing
dalam perkembangan karier di bandingkan dengan pekerja
yg walau skill teknis nya pas2 an, tapi pandai
berkomunikasi dan berstrategi. Kesuksesan karier tak
selalu berhubungan dg skill teknis seorang pekerja ,
terutama pada perusahaan yg HRD system nya tak
berjalan baik atau corporate culture nya lemah..
Pada perusahaan yg memiliki corporate culture yg sehat
dan HRD system nya berjalan baik , kita istilahkan
dengan perusahaan ideal , akan lain kondisinya , di
tempat ini, pekerja yg berdedikasi tinggi, bekerja dg
tulus dan cermat, akan mendapatkan imbal balik yg
bagus juga dalam perkembangan karier nya.
Tapi perusahaan ideal tsb , bisa dikatakan hanya
minoritas dari perusahaan secara umum.
Sebuah penelitian psikologis di Amerika, yg meneliti
karakteristik perusahaan dari sisi psikologis, dg
mengumpamakan perusahaan bagaikan manusia, Setelah
mengadakan penelitian bertahun2 pada banyak perusahaan
,ia menemukan bahwa perusahaan adalah makhluk yg
psikopat ; ingin menang sendiri, cari untung yg banyak
, tak peduli dg yg lain dan berbagai karakter negatif
lain nya. Yah memang perusahaan bukan makhluk yg
bernyawa, tapi ternyata berperilaku seperti itu. Hasil
penelitian tsb dibuatkan film dokumenter dg judul "The
Corporate".
Karakter perusahaan yg seperti itu, akan klop sekali
dengan para pekerja yg memiliki karakter "Katak
Machiaveli" tersebut diatas , sehingga banyak kita
temui , bahwa banyak mereka yg sukses berkarier selain
mereka yg memang benar2 kompeten dari segi teknis dan
pandai berkomunikasi, adalah juga , mereka yg biasa2
saja dari sisi kompetensi, tapi ahli juga dalam
"politik kantor" . Banyak juga kita temui , pekerja2
yg idealis,berdedikasi tinggi dan memiliki kompetensi
teknis , tapi karier nya mentok atau bahkan frustasi ,
bahkan keluar kerja dan berpindah2 kerja dari
perusahaan ke perusahaan lain, tapi tetap saja
kariernya tak berkembang bagus.
Karakter perusahaan yg tidak sehat seperti itu
,seringkali menjadi bahan ejekan juga , sumber ketidak
puasan dari para pekerja idealis yg merasa telah
bekerja dg dedikasi tinggi, tapi perusahaan tak
memberikan balasan setimpal.
Dalam dunia kerja, bisa dipilah dua tipe pekerja,
pekerja yg sukses dan pekerja yg berbakti untuk
perusahaan. Pekerja yg berdedikasi tinggi akan
mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan perusahaan
dengan berbagai cara , ia berjuang dengan tulus dan
ikhlas , syukur bila ia berada di perusahaan yang
bagus juga budaya dan HRD system nya,ia akan
mendapatkan kompensasi dan pengembangan karier yg baik
, tapi bila berada di perusahaan yg tak sehat budaya
nya, ia akan jadi pekerja idealis yg frustasi.
Pekerja yg sukses, sejak awal masuk kerja, sudah
berpikir bagaimana caranya ia bisa sukses, dapat
jabatan tinggi, dapat gaji yg besar , fasilitas ,
training dan berbagai manfaat lain nya. Kalau mereka
memang memiliki kompetensi dan kecerdasan yg tinggi
pula , tinggal dipulas dg kemampuan komunikasi dan
keahlian sosial lain nya, ia akan jadi pekerja yg
sukses. Ada pula pekerja yg ingin sukses tapi tak
memiliki kompetensi yg memadai, akhirnya ia lebih
mengandalkan kemampuan, komunikasi, lobby dll, untuk
mencapai keberhasilan nya tersebut.
Pekerja sukses yg baik , adalah yg juga memberi
kontribusi, terhadap kesuksesan perusahaan, ada
dedikasi utk bersama, tapi ada juga mereka yg berusaha
meraih kesuksesan dg logika individualis / egois,
bagaimana caranya saya bisa sukses sendiri, apa pun
cara ditempuh, peduli amat dg rekan kerja yg lain ,
bahkan tak begitu peduli juga dengan perusahaan yg
penting dirinya bisa sukses. Ia hanya berusaha mencari
manfaat sebesar mungkin dari perusahaan, tapi
sebaliknya perusahaan tak mendapatkan manfaat yg besar
dengan keberadaan pekerja tipe tersebut. Kalau tak
didapat di suatu perusahaan ia berusaha mencari di
perusahaan lain, kita kenal pula dg istilah pekerja
kutu loncat.
Pekerja yg berusaha sukses secara individualis ini lah
yg banyak pula menggunakan logika 'Katak Machiaveli"
diatas , dalam menempuh jenjang karier nya.
Secara legal formal, mungkin sah sah saja, tak
melanggar hukum , tapi secara hubungan timbal balik
antara perusahaan dengan pekerja , perusahaan tak
mendapat manfaat banyak dg tipe pekerja seperti ini ,
bahkan bisa merusak sistem pengembangan sumber daya
manusia , merusak jenjang karier , bilamana ia
memiliki jalur karier yg zig zag, melangkahi karier
pekerja lain , menimbulkan rumor tak sedap dan
de-motivasi pada pekerja lain , bila misalnya ia
karena kemampuan lobby nya , menjadi pekerja
kesayangan bos besar.
Para pekerja di satu sisi dan perusahaan di sisi lain
, bisa kita andaikan bagaikan 2 makhluk yg
berseberangan dan ketika mereka menandatangani kontrak
kerja , saat itulah mereka bagaikan pasangan yg
menjalin janji. Perkembangan selanjutnya penuh dengan
lika liku , ada konflik seperti demo mogok kerja atau
bahkan terjalin harmonis seperti perusahaan yg bisa
mengayomi pekerjanya dg baik.
Sebenarnya perusahaan adalah juga kumpulan manusia
juga, khususnya manajemen/direktur yg mengelola
perusahaan tsb . Pengelola perusahaan yg baik, akan
berhasil juga mengarahkan semua kompetensi sumber daya
nya untuk meraih keberhasilan, keberhasilan semua
pihak, perusahaan untung dan karyawan pun bahagia.
Bila kondisi seperti itu, bisa terbangun , pekerja yg
berkarakter "Katak Machiaveli" tak akan ada, kalaupun
ada secepatnya di bina oleh HRD atau dikeluarkan
secepatnya, supaya tak merusak sistem perusahaan
secara keseluruhan.
Ngomong2 ttg katak, saya ingin sedikit share ttg
“teori katak" di dunia karier,
berdasarkan kenyataan sehari hari di dunia kerja
Semoga bermanfaat
--------
Katak Machiavelli di dunia kerja
Di dalam dunia kerja , ternyata berlaku juga praktek
politik , bahkan ada bukunya Political at office ,
karena itu lah, logika Machiaveli yg sebelum ini kita
kenal di dunia politik , bisa berlaku juga di dunia
kerja , misalnya dalam ranah perkembangan karier
seorang pekerja.
Machiaveli seorang ahli politik dalam sejarah kuno
romawi, dikenal dg nasihat2 nya yg dianggap licik,
tapi ternyata efektif dalam meniti karier politik dan
"bermain" politik. Dari sisi moralitas bisa jadi
dogma2 dari Machiaveli dianggap sebagai suatu hal yg
tidak bermoral , namun berbeda pandangan dari sisi
politik praktis.
Hal yg sama ternyata bisa berlaku juga di dunia kerja
atau bisnis secara umum. Salah satu tindakan praktis
di dunia kerja yang menggunakan juga logika serupa
dikenal dg istilah perilaku katak , yg diterapkan oleh
sebagian pekerja dalam menapaki karier nya . Katak
secara karikatural / parodi digambarkan sebagai
berperilaku , ke atas menjilat ( menangkap mangsanya )
, ke samping menyikut dan ke bawah menginjak.
Sebenarnya itu hanyalah hiperbolisme semata,yg kalau
sampai katak tahu, mungkin mereka akan protes juga
kepada bangsa manusia , tapi yah itulah manusia suka
memberi gambaran jelek pada binatang , sama seperti
istilah kambing hitam. Tapi sebagian kita sudah
mafhum dg istilah demikian , dan memang benar2 ada ,
para pekerja yg berperilaku seperti itu ( karakter
katak ). Bila pekerja tersebut "bermain" politik
kantor juga , maka bisa pula kita istilahkan dengan
"Katak Machiaveli" .
Pengalaman di dunia kerja, menunjukkan bahwa
secara diametral, ada dua tipe pekerja ; Pekerja yg
kompeten, bekerja dengan dedikasi tinggi dan tulus ,
namun kurang pandai berkomunikasi , salah satu cabang
keahlian politik kantor . Di sisi lain ada pekerja yg
kompetensi teknis nya biasa2 saja, tapi
memiliki kemampuan politik kantor yg tinggi, pandai
berkomunikasi dan ahli dalam membuat intrik2.
Banyak kasus di dunia kerja, menunjukkan bahwa mereka
yang berdedikasi tinggi, ahli dan tulus,kalah bersaing
dalam perkembangan karier di bandingkan dengan pekerja
yg walau skill teknis nya pas2 an, tapi pandai
berkomunikasi dan berstrategi. Kesuksesan karier tak
selalu berhubungan dg skill teknis seorang pekerja ,
terutama pada perusahaan yg HRD system nya tak
berjalan baik atau corporate culture nya lemah..
Pada perusahaan yg memiliki corporate culture yg sehat
dan HRD system nya berjalan baik , kita istilahkan
dengan perusahaan ideal , akan lain kondisinya , di
tempat ini, pekerja yg berdedikasi tinggi, bekerja dg
tulus dan cermat, akan mendapatkan imbal balik yg
bagus juga dalam perkembangan karier nya.
Tapi perusahaan ideal tsb , bisa dikatakan hanya
minoritas dari perusahaan secara umum.
Sebuah penelitian psikologis di Amerika, yg meneliti
karakteristik perusahaan dari sisi psikologis, dg
mengumpamakan perusahaan bagaikan manusia, Setelah
mengadakan penelitian bertahun2 pada banyak perusahaan
,ia menemukan bahwa perusahaan adalah makhluk yg
psikopat ; ingin menang sendiri, cari untung yg banyak
, tak peduli dg yg lain dan berbagai karakter negatif
lain nya. Yah memang perusahaan bukan makhluk yg
bernyawa, tapi ternyata berperilaku seperti itu. Hasil
penelitian tsb dibuatkan film dokumenter dg judul "The
Corporate".
Karakter perusahaan yg seperti itu, akan klop sekali
dengan para pekerja yg memiliki karakter "Katak
Machiaveli" tersebut diatas , sehingga banyak kita
temui , bahwa banyak mereka yg sukses berkarier selain
mereka yg memang benar2 kompeten dari segi teknis dan
pandai berkomunikasi, adalah juga , mereka yg biasa2
saja dari sisi kompetensi, tapi ahli juga dalam
"politik kantor" . Banyak juga kita temui , pekerja2
yg idealis,berdedikasi tinggi dan memiliki kompetensi
teknis , tapi karier nya mentok atau bahkan frustasi ,
bahkan keluar kerja dan berpindah2 kerja dari
perusahaan ke perusahaan lain, tapi tetap saja
kariernya tak berkembang bagus.
Karakter perusahaan yg tidak sehat seperti itu
,seringkali menjadi bahan ejekan juga , sumber ketidak
puasan dari para pekerja idealis yg merasa telah
bekerja dg dedikasi tinggi, tapi perusahaan tak
memberikan balasan setimpal.
Dalam dunia kerja, bisa dipilah dua tipe pekerja,
pekerja yg sukses dan pekerja yg berbakti untuk
perusahaan. Pekerja yg berdedikasi tinggi akan
mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan perusahaan
dengan berbagai cara , ia berjuang dengan tulus dan
ikhlas , syukur bila ia berada di perusahaan yang
bagus juga budaya dan HRD system nya,ia akan
mendapatkan kompensasi dan pengembangan karier yg baik
, tapi bila berada di perusahaan yg tak sehat budaya
nya, ia akan jadi pekerja idealis yg frustasi.
Pekerja yg sukses, sejak awal masuk kerja, sudah
berpikir bagaimana caranya ia bisa sukses, dapat
jabatan tinggi, dapat gaji yg besar , fasilitas ,
training dan berbagai manfaat lain nya. Kalau mereka
memang memiliki kompetensi dan kecerdasan yg tinggi
pula , tinggal dipulas dg kemampuan komunikasi dan
keahlian sosial lain nya, ia akan jadi pekerja yg
sukses. Ada pula pekerja yg ingin sukses tapi tak
memiliki kompetensi yg memadai, akhirnya ia lebih
mengandalkan kemampuan, komunikasi, lobby dll, untuk
mencapai keberhasilan nya tersebut.
Pekerja sukses yg baik , adalah yg juga memberi
kontribusi, terhadap kesuksesan perusahaan, ada
dedikasi utk bersama, tapi ada juga mereka yg berusaha
meraih kesuksesan dg logika individualis / egois,
bagaimana caranya saya bisa sukses sendiri, apa pun
cara ditempuh, peduli amat dg rekan kerja yg lain ,
bahkan tak begitu peduli juga dengan perusahaan yg
penting dirinya bisa sukses. Ia hanya berusaha mencari
manfaat sebesar mungkin dari perusahaan, tapi
sebaliknya perusahaan tak mendapatkan manfaat yg besar
dengan keberadaan pekerja tipe tersebut. Kalau tak
didapat di suatu perusahaan ia berusaha mencari di
perusahaan lain, kita kenal pula dg istilah pekerja
kutu loncat.
Pekerja yg berusaha sukses secara individualis ini lah
yg banyak pula menggunakan logika 'Katak Machiaveli"
diatas , dalam menempuh jenjang karier nya.
Secara legal formal, mungkin sah sah saja, tak
melanggar hukum , tapi secara hubungan timbal balik
antara perusahaan dengan pekerja , perusahaan tak
mendapat manfaat banyak dg tipe pekerja seperti ini ,
bahkan bisa merusak sistem pengembangan sumber daya
manusia , merusak jenjang karier , bilamana ia
memiliki jalur karier yg zig zag, melangkahi karier
pekerja lain , menimbulkan rumor tak sedap dan
de-motivasi pada pekerja lain , bila misalnya ia
karena kemampuan lobby nya , menjadi pekerja
kesayangan bos besar.
Para pekerja di satu sisi dan perusahaan di sisi lain
, bisa kita andaikan bagaikan 2 makhluk yg
berseberangan dan ketika mereka menandatangani kontrak
kerja , saat itulah mereka bagaikan pasangan yg
menjalin janji. Perkembangan selanjutnya penuh dengan
lika liku , ada konflik seperti demo mogok kerja atau
bahkan terjalin harmonis seperti perusahaan yg bisa
mengayomi pekerjanya dg baik.
Sebenarnya perusahaan adalah juga kumpulan manusia
juga, khususnya manajemen/direktur yg mengelola
perusahaan tsb . Pengelola perusahaan yg baik, akan
berhasil juga mengarahkan semua kompetensi sumber daya
nya untuk meraih keberhasilan, keberhasilan semua
pihak, perusahaan untung dan karyawan pun bahagia.
Bila kondisi seperti itu, bisa terbangun , pekerja yg
berkarakter "Katak Machiaveli" tak akan ada, kalaupun
ada secepatnya di bina oleh HRD atau dikeluarkan
secepatnya, supaya tak merusak sistem perusahaan
secara keseluruhan.
Tukul beli mobil baru...
Dear all,
pernah denger cerita dari Mas Tukul yg itu loh...masak ga tau:)
Jadi gene neh ceritanya...
Mas Tukul, OKB Jakarta, pengen beli mobil baru. Maklum lagi banyak order sampai susah mau taruh uangnya dimana. Sampai kemudian mendapatkan ide untuk membeli mobil baru. Maklum, mobil kan bagi orang Jakarta sekaligus untuk menunjukkan status sosial. Makin bagus mobilnya kelihatan tinggi status sosialnya. Sampai kemudian Mas Tukul memutuskan untuk membeli mobil Toyota Camry, mobil kelas menengah yang juga menjadi tunggangan para anggota DPR.
Suatu sore, Mas Tukul ingin mencoba mobil barunya keliling Jakarta, sekaligus untuk belajar bagaimana menguasai mobil barunya. Mula-mula hanya sekitar Monas. Tapi karena keenakan akhirnya tertantang juga untuk mencobanya di Jalan Tol. Tak tanggung-tanggung, Tol Cipularang !!
Maka selepas dari Monas, dikemudikan mobilnya ke pintu tol Cipularang. Setelah mengambil karcis dikebutnya mobilnya di jalan tol yang mulus ini.
Pada saat itu juga, tiga puluh menit yang lalu, Primus, seorang seleb terkenal Jakarta juga sedang mengendarai Mercy Sport menuju ke jurusan yang sama dengan Mas Tukul.
Sedang enak-enaknya mengendarai Mercy Sport-nya, tiba-tiba dari arah belakang muncul Mas Tukul dengan mobil Camry-nya. Mas Tukul teriak dengan kencang ke arah Primus,” Halo ! Ente tau gak mobil Toyota Camry ?” Kemudian mobilnya melesat meninggalkan Primus.
Merasa diremehkan, Primus gantian menggenjot mobil Mercy Sportnya sampai menyusul Mas Tukul. Kata Primus,” Ente Tau gak mobil Mercy Sport ?” Lalu bablas meninggalkan Mas Tukul dengan Camry-nya.
Tidak selang beberapa lama, tiba-tiba Mas Tukul nyusul Primus lagi. Kemudian dia berteriak lagi,” Hai…Ente tau gak mobil Camry ?” lalu bablas lagi meninggalkan Primus.
Primus merasa dilecehkan lagi. Dengan muka merah dia menggenjot lebih kencang lagi mobil Mercy Sport-nya sampai kemudian Mas Tukul tersusul lagi. Katanya lagi,” Hai…Ente tau gak mobil Mercy Sport ??” Lalu menggeber mobilnya meninggalkan Mas Tukul.
Namun tidak selang beberapa lama lagi tiba-tiba Mas Tukul nyusul lagi. Setelah berpapasan dia berkata lagi,” Hai…ente tau gak mobil Camry ?”
Karena kecepatan mobil Primus sudah menunjukkan 200 km/perjam dan sudah tidak mungkin menaikkan kecepatannya lagi, akhirnya dengan pasrah dia berkata,” OK deh gue pasrah, kalah ! gue kenal mobil Camry lu yang hebat !!
Mas Tukul berkata lagi,”Kalo gitu, DI SEBELAH MANA SIH REM-NYA ????"
pernah denger cerita dari Mas Tukul yg itu loh...masak ga tau:)
Jadi gene neh ceritanya...
Mas Tukul, OKB Jakarta, pengen beli mobil baru. Maklum lagi banyak order sampai susah mau taruh uangnya dimana. Sampai kemudian mendapatkan ide untuk membeli mobil baru. Maklum, mobil kan bagi orang Jakarta sekaligus untuk menunjukkan status sosial. Makin bagus mobilnya kelihatan tinggi status sosialnya. Sampai kemudian Mas Tukul memutuskan untuk membeli mobil Toyota Camry, mobil kelas menengah yang juga menjadi tunggangan para anggota DPR.
Suatu sore, Mas Tukul ingin mencoba mobil barunya keliling Jakarta, sekaligus untuk belajar bagaimana menguasai mobil barunya. Mula-mula hanya sekitar Monas. Tapi karena keenakan akhirnya tertantang juga untuk mencobanya di Jalan Tol. Tak tanggung-tanggung, Tol Cipularang !!
Maka selepas dari Monas, dikemudikan mobilnya ke pintu tol Cipularang. Setelah mengambil karcis dikebutnya mobilnya di jalan tol yang mulus ini.
Pada saat itu juga, tiga puluh menit yang lalu, Primus, seorang seleb terkenal Jakarta juga sedang mengendarai Mercy Sport menuju ke jurusan yang sama dengan Mas Tukul.
Sedang enak-enaknya mengendarai Mercy Sport-nya, tiba-tiba dari arah belakang muncul Mas Tukul dengan mobil Camry-nya. Mas Tukul teriak dengan kencang ke arah Primus,” Halo ! Ente tau gak mobil Toyota Camry ?” Kemudian mobilnya melesat meninggalkan Primus.
Merasa diremehkan, Primus gantian menggenjot mobil Mercy Sportnya sampai menyusul Mas Tukul. Kata Primus,” Ente Tau gak mobil Mercy Sport ?” Lalu bablas meninggalkan Mas Tukul dengan Camry-nya.
Tidak selang beberapa lama, tiba-tiba Mas Tukul nyusul Primus lagi. Kemudian dia berteriak lagi,” Hai…Ente tau gak mobil Camry ?” lalu bablas lagi meninggalkan Primus.
Primus merasa dilecehkan lagi. Dengan muka merah dia menggenjot lebih kencang lagi mobil Mercy Sport-nya sampai kemudian Mas Tukul tersusul lagi. Katanya lagi,” Hai…Ente tau gak mobil Mercy Sport ??” Lalu menggeber mobilnya meninggalkan Mas Tukul.
Namun tidak selang beberapa lama lagi tiba-tiba Mas Tukul nyusul lagi. Setelah berpapasan dia berkata lagi,” Hai…ente tau gak mobil Camry ?”
Karena kecepatan mobil Primus sudah menunjukkan 200 km/perjam dan sudah tidak mungkin menaikkan kecepatannya lagi, akhirnya dengan pasrah dia berkata,” OK deh gue pasrah, kalah ! gue kenal mobil Camry lu yang hebat !!
Mas Tukul berkata lagi,”Kalo gitu, DI SEBELAH MANA SIH REM-NYA ????"
Saturday, December 8, 2007
Saatnya baca cerita luthu....^_^
Wah sdh lama blm posting lg...
iseng2... saatnya kita cerita lucu2an dulu skarang
lumayan buat ngilangin strezz...hehe
Gembala Kambing
Suatu hari, Fulan berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Fulan bertanya dengan takjub
Fulan: "Pak, boleh nanya nih?"
Gembala: "Boleh"
Fulan : "Kambing-kambing bapak sehat sekali,bapak kasih makan apa?"
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "mmmm ...Yang hitam dulu deh...."
Gembala : "oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput basah"
Fulan : "ohh...kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga..."
Fulan : "hmmm...kambing- kambing ini, kuat jalan berapa kilo pak?"
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "mmmm Yang hitam dulu deh...."
Gembala : "oh, kalo yang hitam, 4 km sehari"
Fulan : "kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga..."
Si Fulan mulai gondok.... : "kambing ini,menghasilkan banyak bulu ngga
pak, pertahunnya? "
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "(dengan kesalnya) yang hitam dulu deh..."
Gembala : "oh, yang hitam, banyak...10 kg/th" Fulan : "kalo yang
putih...?"
Gembala : "yang putih juga"
Fulan : "BAPAK KENAPA SIH SELALU NGEBEDAIN KAMBING DUA INI, KALO
JAWABANNYA SAMA??????"
Gembala : "oh, gini dik, soalnya yang hitam itu,punya saya...."
Fulan : "Oh gitu pak, maaf kalo saya emosi... , kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga"
Fulan : #$@%!!??
____________________________________________________
eits...blum slese..
masih ada lagi yg neh ceritanya...
yg ketawa krn baca cerita dibawah ini berarti di pinter...:P
Ceritanya gene..
Budi adalah seorang profesor penemu ulung, dia berhasil menciptakan robot yang
bisa mendeteksi kebohongan, dia membuat robot itu sedemikian rupa sehingga
ketika mendengarkan kebohongan, sang robot akan langsung menampar si pembohong
itu...
Budi dengan bangga membawa robot itu ke ruang keluarga dan menunggu anaknya
pulang... tapi anaknya tak kunjung pulang...
ditunggu-tunggu baru sore hari sang anak pulang...
"Kamu dari mana ? kok pulangnya telat" tanya si Budi
" Ada pelajaran tambahan pa" jawab sang anak
*PLAK* Sang robot menampar si anak...
"Nak, ini adalah robot ciptaan ayah, dia akan menampar siapapun yang
berbohong..! sekarang katakan dengan jujur, kenapa pulangnya telat ??!"
"Maaf ayah.. aku habis menonton film di rumah teman..."
"Film apa?"
"Film Sinetron pa"
*PLAK*
"Ayo katakan dengan jujur film apa ??"
"Maaf Ayah... saya menonton film porno"
mendengar itu marahlah si Budi.. "Kamu itu yach ... kecil-kecil uda nakal, mau
jadi apa
kamu nanti besar ? kurang ajar kamu yach ... bikin malu ajah ...perbuatan yang
benar-benar memalukan..! !! papa waktu seumuran kamu gak pernah melakukan
hal senakal kamu...!"
*PLAK* Budi ditampar sang robot
Suasana hening untuk beberapa saat...
Istri Budi kemudian masuk datang dan langsung berkata... "huh, sama aja
kelakuannya, apel gak akan jatuh jauh dari pohonnya kan ? ya gimanapun juga dia
anak elo, jadi...."
*PLAK*
Sang robot menampar istri Budi sebelum sang istri sempat menyelesaikan
kata2nya..
dan semua terdiam
_______________________________________________________
"Gusdur dan Stadion baru"
Dahulu, pada saat GusDur masih menjabat Presiden RI, tersiar kabar di
kalangan pesepakbola Indonesia bahwa beliau akan membangun stadion yang
tak kalah hebat dengan stadion-stadion di spanyol. Salah satu pejabat PSSI
mengatakan bahwa isu tersebut benar adanya. bahkan pejabat PSSI yang tidak
mau disebutkan namanya itu membeberkan model stadion yang akan dibangun
oleh Gusdur.
Rencananya stadion itu akan dibangun dengan gaya arsitek gabungan eropa
dan asia. rumputnya diambilkan dari jerman, kursinya dari shanghai, mesin
pemotong rumputnya dari jepang, pokoknya semua canggih dan serba luar
negeri. Pakai penutup atap stadion segala. jadi kalau hujan, pemain dan
penonton tidak kehujanan. lahan parkir dibuat yang luas dan semua penonton
yang hendak menonton pertandingan tidak diharuskan membayar alias gratis.
Namun, setelah beberapa hari tersiar kabar lagi, kalau pembangunan stadion
mewah tersebut gagal dilaksanakan. Salah satu pejabat PSSI yang dimintai
keterangannnya menjelaskan mengapa rencana tersebut dibatalkan. Alasannya
sederhana. Ternyata Gusdur ingin memberi nama stadion itu dengan NU Camp.
Katanya biar mirip dengan Nou Camp yang ada di Spanyol itu.
_____________________________________________________
"Jaksa Kalah Pinter"
Si Pirang dan si jaksa duduk berdampingan di kelas ekonomi si sebuah pesawat.
Karena bosan, maka si jaksa mengajak si pirang bermain sebuah permainan
dengannya.
Jaksa : 'Hei Pirang, ayo kita bermain sebuah permainan.
Pirang: 'Apa?'
Jaksa : 'Kamu pasti suka. Aku tanya kamu suatu pertanyaan, kalau kamu
tidak bisa menjawabnya, kamu berikan padaku 5 USD.'
Pirang: 'OH! Kalau aku yang bertanya dan kamu tidak bisa menjawabnya?'
Jaksa : 'Oh, aku akan memberimu 300 USD.'
Pirang: 'Oh SAYA SUKA ITU!'
Jaksa pun mulai.
Jaksa : 'Jawablah ini; diameter bumi itu berapa meter?'
Pirang mencari dompetnya dan mengeluarkan 5 USD
Pirang: 'Giliranku. Apa yang naik gunung pake 3 kaki turun gunung pake 5
kaki?'
Jaksa berpikir dan berpikir, apapun yang dia jawab salah. Si Pirang pun
tidur sambil menunggu jawaban Jaksa. Jaksa pun membangunkan si pirang.
Jaksa : 'Nih 300 USD. Tolong deh, aku penasaran sampai mati. Jawaban
petanyaanmu apa???'
Si Pirang mengeluarkan 5 dollar dan memberikannya pada si jaksa. ( Krn Si
Pirang Pun ga tau jawabannya )
_________________________________________________
"Profesional Muda"
Seorang profesional muda sedang membuka pintu mobil
BMW-nya ketika tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan
tinggi lewat dan menabrak pintu mobil itu hingga copot.
Profesinal muda itu mengumpat habis-habisan dan
meratapi mobil mewahnya yg rusak tanpa pintu.Kemudian
datang polisi ke TKP."Pak Polisi, lihat apa yg dilakukan
orang gila tadi thdp mobilku!"katanya histeris."Kalian
kaum berdasi benar2x materialistis, kalian membuatku
muak!"kata Polisi."Kamu begitu khawatir pada BMW-mu,
apakah kamu 'gak nyadar kalau tanganmu juga hilang
sebelah?!""Ya Tuhaaaaannnnnnn!!!!"teriak si profesional
ketika ia melihat lengannya sudah nggak ada lagi."Mana
jam Rolex-ku?!".
iseng2... saatnya kita cerita lucu2an dulu skarang
lumayan buat ngilangin strezz...hehe
Gembala Kambing
Suatu hari, Fulan berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Fulan bertanya dengan takjub
Fulan: "Pak, boleh nanya nih?"
Gembala: "Boleh"
Fulan : "Kambing-kambing bapak sehat sekali,bapak kasih makan apa?"
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "mmmm ...Yang hitam dulu deh...."
Gembala : "oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput basah"
Fulan : "ohh...kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga..."
Fulan : "hmmm...kambing- kambing ini, kuat jalan berapa kilo pak?"
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "mmmm Yang hitam dulu deh...."
Gembala : "oh, kalo yang hitam, 4 km sehari"
Fulan : "kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga..."
Si Fulan mulai gondok.... : "kambing ini,menghasilkan banyak bulu ngga
pak, pertahunnya? "
Gembala : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan : "(dengan kesalnya) yang hitam dulu deh..."
Gembala : "oh, yang hitam, banyak...10 kg/th" Fulan : "kalo yang
putih...?"
Gembala : "yang putih juga"
Fulan : "BAPAK KENAPA SIH SELALU NGEBEDAIN KAMBING DUA INI, KALO
JAWABANNYA SAMA??????"
Gembala : "oh, gini dik, soalnya yang hitam itu,punya saya...."
Fulan : "Oh gitu pak, maaf kalo saya emosi... , kalo yang putih?"
Gembala : "yang putih juga"
Fulan :
____________________________________________________
eits...blum slese..
masih ada lagi yg neh ceritanya...
yg ketawa krn baca cerita dibawah ini berarti di pinter...:P
Ceritanya gene..
Budi adalah seorang profesor penemu ulung, dia berhasil menciptakan robot yang
bisa mendeteksi kebohongan, dia membuat robot itu sedemikian rupa sehingga
ketika mendengarkan kebohongan, sang robot akan langsung menampar si pembohong
itu...
Budi dengan bangga membawa robot itu ke ruang keluarga dan menunggu anaknya
pulang... tapi anaknya tak kunjung pulang...
ditunggu-tunggu baru sore hari sang anak pulang...
"Kamu dari mana ? kok pulangnya telat" tanya si Budi
" Ada pelajaran tambahan pa" jawab sang anak
*PLAK* Sang robot menampar si anak...
"Nak, ini adalah robot ciptaan ayah, dia akan menampar siapapun yang
berbohong..! sekarang katakan dengan jujur, kenapa pulangnya telat ??!"
"Maaf ayah.. aku habis menonton film di rumah teman..."
"Film apa?"
"Film Sinetron pa"
*PLAK*
"Ayo katakan dengan jujur film apa ??"
"Maaf Ayah... saya menonton film porno"
mendengar itu marahlah si Budi.. "Kamu itu yach ... kecil-kecil uda nakal, mau
jadi apa
kamu nanti besar ? kurang ajar kamu yach ... bikin malu ajah ...perbuatan yang
benar-benar memalukan..! !! papa waktu seumuran kamu gak pernah melakukan
hal senakal kamu...!"
*PLAK* Budi ditampar sang robot
Suasana hening untuk beberapa saat...
Istri Budi kemudian masuk datang dan langsung berkata... "huh, sama aja
kelakuannya, apel gak akan jatuh jauh dari pohonnya kan ? ya gimanapun juga dia
anak elo, jadi...."
*PLAK*
Sang robot menampar istri Budi sebelum sang istri sempat menyelesaikan
kata2nya..
dan semua terdiam
_______________________________________________________
"Gusdur dan Stadion baru"
Dahulu, pada saat GusDur masih menjabat Presiden RI, tersiar kabar di
kalangan pesepakbola Indonesia bahwa beliau akan membangun stadion yang
tak kalah hebat dengan stadion-stadion di spanyol. Salah satu pejabat PSSI
mengatakan bahwa isu tersebut benar adanya. bahkan pejabat PSSI yang tidak
mau disebutkan namanya itu membeberkan model stadion yang akan dibangun
oleh Gusdur.
Rencananya stadion itu akan dibangun dengan gaya arsitek gabungan eropa
dan asia. rumputnya diambilkan dari jerman, kursinya dari shanghai, mesin
pemotong rumputnya dari jepang, pokoknya semua canggih dan serba luar
negeri. Pakai penutup atap stadion segala. jadi kalau hujan, pemain dan
penonton tidak kehujanan. lahan parkir dibuat yang luas dan semua penonton
yang hendak menonton pertandingan tidak diharuskan membayar alias gratis.
Namun, setelah beberapa hari tersiar kabar lagi, kalau pembangunan stadion
mewah tersebut gagal dilaksanakan. Salah satu pejabat PSSI yang dimintai
keterangannnya menjelaskan mengapa rencana tersebut dibatalkan. Alasannya
sederhana. Ternyata Gusdur ingin memberi nama stadion itu dengan NU Camp.
Katanya biar mirip dengan Nou Camp yang ada di Spanyol itu.
_____________________________________________________
"Jaksa Kalah Pinter"
Si Pirang dan si jaksa duduk berdampingan di kelas ekonomi si sebuah pesawat.
Karena bosan, maka si jaksa mengajak si pirang bermain sebuah permainan
dengannya.
Jaksa : 'Hei Pirang, ayo kita bermain sebuah permainan.
Pirang: 'Apa?'
Jaksa : 'Kamu pasti suka. Aku tanya kamu suatu pertanyaan, kalau kamu
tidak bisa menjawabnya, kamu berikan padaku 5 USD.'
Pirang: 'OH! Kalau aku yang bertanya dan kamu tidak bisa menjawabnya?'
Jaksa : 'Oh, aku akan memberimu 300 USD.'
Pirang: 'Oh SAYA SUKA ITU!'
Jaksa pun mulai.
Jaksa : 'Jawablah ini; diameter bumi itu berapa meter?'
Pirang mencari dompetnya dan mengeluarkan 5 USD
Pirang: 'Giliranku. Apa yang naik gunung pake 3 kaki turun gunung pake 5
kaki?'
Jaksa berpikir dan berpikir, apapun yang dia jawab salah. Si Pirang pun
tidur sambil menunggu jawaban Jaksa. Jaksa pun membangunkan si pirang.
Jaksa : 'Nih 300 USD. Tolong deh, aku penasaran sampai mati. Jawaban
petanyaanmu apa???'
Si Pirang mengeluarkan 5 dollar dan memberikannya pada si jaksa. ( Krn Si
Pirang Pun ga tau jawabannya )
_________________________________________________
"Profesional Muda"
Seorang profesional muda sedang membuka pintu mobil
BMW-nya ketika tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan
tinggi lewat dan menabrak pintu mobil itu hingga copot.
Profesinal muda itu mengumpat habis-habisan dan
meratapi mobil mewahnya yg rusak tanpa pintu.Kemudian
datang polisi ke TKP."Pak Polisi, lihat apa yg dilakukan
orang gila tadi thdp mobilku!"katanya histeris."Kalian
kaum berdasi benar2x materialistis, kalian membuatku
muak!"kata Polisi."Kamu begitu khawatir pada BMW-mu,
apakah kamu 'gak nyadar kalau tanganmu juga hilang
sebelah?!""Ya Tuhaaaaannnnnnn!!!!"teriak si profesional
ketika ia melihat lengannya sudah nggak ada lagi."Mana
jam Rolex-ku?!".
Monday, December 3, 2007
Saatnya Qurban yang Terbaik...
Tak terasa 2 pekan lagi ketemu idul adha...
Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1428 H
Mari qta berikan qurban yg terbaik...^_ ^
its nice story...
QURBAN TERBAIK
Oleh
Jojo Wahyudi
Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
berjualan hewan Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga
hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.
Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
yang hanya bersarung
hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak
terkecuali anak-anak
yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang
akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti,
sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak
sejak dini
tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
bertransaksi
memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk
panjang,
ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di
sekitarnya.
" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk
kambing coklat tersebut.
" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega
Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
berpromosi
matanya berkeliling sambil tetap melayani calon
pembeli lainnya.
" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
mahal" si pedagang bertahan.
" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan
menurunkan harganya.
" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu?" kataku
" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
kambing ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
dia gak bisa datang ke sini sendiri.
Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan
bakarnya bukan rumput"
kata si pedagang meledek.
Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
Tidak menawarkan harga selain
yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya
yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada
perbedaan harga lima ratus ribu.
Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
berencana ke toko ban mobil.
Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus
tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang
harganya kini selangit.
" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
kataku kemudian
" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah" katanya
Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan
harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
tetapi wajahnya masih terlihat segar.
" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
katanya kagum
" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
pedagang setengah malas menjawab
setelah melihat penampilan si kakek.
" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
negosiasi juga.
" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
terlihat semakin malas meladeni.
" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
Qurban tahun ini)
Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas."
katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan
bungkusan
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang
juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar
uang seratus ribuan
dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
dari dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
tetap bersahaja.
Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
memperhatikannya sejak tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang
menerima uang yang disodorkan si kakek,
kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang
itu.
" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
diberikannya berlebih
" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
kakek berubah menjadi mbah)
" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar
ke desa dekat itu ya),
sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
Masjid Baiturrohman,
takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo
pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti,
InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
anak-anak sudah tahu)."
Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
sepeda tua
yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak
jauh dari X-Trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan
sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.
Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
berkendara sepeda engkol,
sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk
dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
diterima setiap bulan oleh si kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak
ada rumah yang berdiri dengan mewah,
rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya
petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
gede) dan memilikinya
Yang sanggup membeli hewan Qurban dua ekor sapi
sekaligus
Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
bawah kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil
X-Trail, kendaraanku di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku
berpikir seribu kali saat membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
manusia
balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini
ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu
(Cikini, 12-11-07)
Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1428 H
Mari qta berikan qurban yg terbaik...^_ ^
its nice story...
QURBAN TERBAIK
Oleh
Jojo Wahyudi
Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
berjualan hewan Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga
hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.
Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
yang hanya bersarung
hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak
terkecuali anak-anak
yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang
akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti,
sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak
sejak dini
tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
bertransaksi
memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk
panjang,
ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di
sekitarnya.
" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk
kambing coklat tersebut.
" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega
Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
berpromosi
matanya berkeliling sambil tetap melayani calon
pembeli lainnya.
" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
mahal" si pedagang bertahan.
" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan
menurunkan harganya.
" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu?" kataku
" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
kambing ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
dia gak bisa datang ke sini sendiri.
Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan
bakarnya bukan rumput"
kata si pedagang meledek.
Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
Tidak menawarkan harga selain
yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya
yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada
perbedaan harga lima ratus ribu.
Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
berencana ke toko ban mobil.
Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus
tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang
harganya kini selangit.
" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
kataku kemudian
" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah" katanya
Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan
harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
tetapi wajahnya masih terlihat segar.
" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
katanya kagum
" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
pedagang setengah malas menjawab
setelah melihat penampilan si kakek.
" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
negosiasi juga.
" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
terlihat semakin malas meladeni.
" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
Qurban tahun ini)
Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas."
katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan
bungkusan
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang
juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar
uang seratus ribuan
dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
dari dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
tetap bersahaja.
Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
memperhatikannya sejak tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang
menerima uang yang disodorkan si kakek,
kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang
itu.
" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
diberikannya berlebih
" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
kakek berubah menjadi mbah)
" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar
ke desa dekat itu ya),
sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
Masjid Baiturrohman,
takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo
pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti,
InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
anak-anak sudah tahu)."
Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
sepeda tua
yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak
jauh dari X-Trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan
sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.
Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
berkendara sepeda engkol,
sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk
dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
diterima setiap bulan oleh si kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak
ada rumah yang berdiri dengan mewah,
rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya
petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
gede) dan memilikinya
Yang sanggup membeli hewan Qurban dua ekor sapi
sekaligus
Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
bawah kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil
X-Trail, kendaraanku di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku
berpikir seribu kali saat membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
manusia
balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini
ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu
(Cikini, 12-11-07)
Sunday, November 25, 2007
Lovely words...
Just think a lot for this words...
GOD answer prayers in three ways. He says YES and gives what you WANT. He says NO and gives you something BETTER. He says WAIT and gives you THE BEST. GOD answer : Await and bear with you. I’ll give you the BEST, that what you’re not suspect.
“… Any heart no tought or strong enough to take a lot of pain. Love just like a flame, it burns you when its hot …” (Love Hurts, Nazaret)
Banyak hati yang tidak tangguh dan cukup kuat untuk menanggung derita dan kesakitan dalam cinta. Padahal cinta itu seperti nyala api yang akan membakar hati dan jiwa kita tatkala sudah mencapai panasnya. Itulah cinta, yang mampu membakar jiwa dan hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk mengabadikan cintanya. Sudahkan kita melakukannya??? Jika belum, lakukanlah sesuatu untuk cinta kita kepada ALLAH ! Dan cinta kita kepada-Nya akan abadi.
Jadilah manusia yang melakukan sesuatu dengan kadar kemampuan yang ALLAH berikan. Sesungguhnya ALLAH mencintai seseorang yang tahu akan kadar kemampuan dan kualitas dirinya untuk kebaikan. Selain itu, kita harus mempunyai cita-cita yang besar. Karena mustahil sesuatu yang besar akan lahir tanpa cita-cita yang besar pula. Islam lahir dari orang-orang yang punya pemikiran besar. Walaupun demikian, mulailah dari hal-hal yang bisa dilakukan semampunya. Sebab langkah yang panjang yang membentang tidak akan mungkin terwujud tanpa diawali dengan setapak demi setapak langkah pertama.
Seorang mukmin boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. tetapi dia tidak boleh kalah, menyerah pada kelemahannya, menyerah pada tantangan dan keterbatasannya. dia harus tetap menembus gelap supaya dia bisa menjemput fajar. karena syurga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja.Abdullah bin Amr bin ‘Ash bertutur, “Menangislah! Jika tidak bisa maka usahakan untuk menangis. Demi Alloh, jika salah seorang di antara kalian benar-benar mengerti, pastilah ia akan berteriak sekeras-kerasnya sampai hilang suaranya, dan akan sholat sampai patah tulang punggungnya.
There is no one secret of success, but there are hundreds of not-so-secret ways to achieve it. –Soundview Executive Book Summaries–
You must invest most of your time every week doing what yaou do best, and let others do what they do best. –Jack Canfield–
If you spend too much time working on your weaknesses, aa\ll you end up with is a lot of strong weaknesses. –Dan Sullivan–
Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young. –Henry Ford–
Master books, but do not let them master you. Read to live, not live to read. –Edward Bulwer-Lytton–
Life cannot defeat a writer who is in love with writing-for life itself is a writer’s love until deadh.–Edna Ferber (1887-1968)–
GOD answer prayers in three ways. He says YES and gives what you WANT. He says NO and gives you something BETTER. He says WAIT and gives you THE BEST. GOD answer : Await and bear with you. I’ll give you the BEST, that what you’re not suspect.
“… Any heart no tought or strong enough to take a lot of pain. Love just like a flame, it burns you when its hot …” (Love Hurts, Nazaret)
Banyak hati yang tidak tangguh dan cukup kuat untuk menanggung derita dan kesakitan dalam cinta. Padahal cinta itu seperti nyala api yang akan membakar hati dan jiwa kita tatkala sudah mencapai panasnya. Itulah cinta, yang mampu membakar jiwa dan hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk mengabadikan cintanya. Sudahkan kita melakukannya??? Jika belum, lakukanlah sesuatu untuk cinta kita kepada ALLAH ! Dan cinta kita kepada-Nya akan abadi.
Jadilah manusia yang melakukan sesuatu dengan kadar kemampuan yang ALLAH berikan. Sesungguhnya ALLAH mencintai seseorang yang tahu akan kadar kemampuan dan kualitas dirinya untuk kebaikan. Selain itu, kita harus mempunyai cita-cita yang besar. Karena mustahil sesuatu yang besar akan lahir tanpa cita-cita yang besar pula. Islam lahir dari orang-orang yang punya pemikiran besar. Walaupun demikian, mulailah dari hal-hal yang bisa dilakukan semampunya. Sebab langkah yang panjang yang membentang tidak akan mungkin terwujud tanpa diawali dengan setapak demi setapak langkah pertama.
Seorang mukmin boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. tetapi dia tidak boleh kalah, menyerah pada kelemahannya, menyerah pada tantangan dan keterbatasannya. dia harus tetap menembus gelap supaya dia bisa menjemput fajar. karena syurga bukanlah kado yang dihadiahkan begitu saja.Abdullah bin Amr bin ‘Ash bertutur, “Menangislah! Jika tidak bisa maka usahakan untuk menangis. Demi Alloh, jika salah seorang di antara kalian benar-benar mengerti, pastilah ia akan berteriak sekeras-kerasnya sampai hilang suaranya, dan akan sholat sampai patah tulang punggungnya.
There is no one secret of success, but there are hundreds of not-so-secret ways to achieve it. –Soundview Executive Book Summaries–
You must invest most of your time every week doing what yaou do best, and let others do what they do best. –Jack Canfield–
If you spend too much time working on your weaknesses, aa\ll you end up with is a lot of strong weaknesses. –Dan Sullivan–
Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young. –Henry Ford–
Master books, but do not let them master you. Read to live, not live to read. –Edward Bulwer-Lytton–
Life cannot defeat a writer who is in love with writing-for life itself is a writer’s love until deadh.–Edna Ferber (1887-1968)–
Saturday, November 24, 2007
Life for Struggle...!

Ada seorang anak menemukan kepompong bakal calon seekor kupu-kupu...
Suatu hari lubang kecil muncul...
Orang itu duduk dan mengamati dalam beberapa jam ketika kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu...
...Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan.
Kelihatannya kupu-kupu itu telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya...
Namun, kupu-kupu itu mempunyai tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang...
Namun semuanya tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang...
Yang tidak dimengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut...
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita..
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita...
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu...
Kita mungkin tidak pernah dapat terbang...
Kita mohon Kekuatan … Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat...
Kita memohon Kebijakan … Dan Tuhan memberi kita persoalan untuk diselesaikan...
Kita memohon Kemakmuran dan Kelapangan… Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk bekerja...
Kita memohon Keteguhan hati …Dan Tuhan memberi kita Bahaya untuk diatasi...
Kita memohon Cinta … Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong...
Kita memohon Kemurahan/Kebaikan hati … Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan...
Kita tidak memperoleh yang kita inginkan, kita mendapatkan segala yang kita butuhkan...
Tapi itulah seninya hidup...
Tuhan memberikan segalanya dengan terencana...
ketika berharap kemaslahatan dunia... sudah barang tentu sebuah perjuangan yang senantiasa kita lakukan...
ketika berharap kemaslahatan akhirat... sudah barang tentu sebuah perjuangan pula yang senantiasa kita jalani di dunia...
Dibalik cobaaan yang menerpa hidup kita, trkandung hikmah atau pelajaran yang tentunya terbaik utk kita... Muslim yang baik adalah yang bisa mengambil hikmah dalam setiap cobaan yang ada. Dan yakinlah..bahwa Allah SWT tidak pernah membiarkan hambaNya hidup dalam penderitaan...
...ya Alloh berilah hambaMu kekuatan untuk menjadikan perjuangan hidup dunia demi kemaslahatan diakhirat yang kekal nanti...
wassalam,
Saturday, November 17, 2007
Straighten your intention...
Saatnya berhenti sejenak, luruskan niat anda...
itulah kata yang sepantasnya kita ulang2 ketika kita mulai beraktifitas...
ada artikel menarik mengenai hal ini yg dapat menjadi inspirasi kita...
Sebagian orang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya terbelengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang bagus adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai bagian dari sukses di akhirat. Bahkan itulah sebenamya pola yang di inginkan oleh Islam. Bagaimana caranya?
Caranya dengan menjadikan semua aktifitas duniawi kita memiliki nilai-nilai kesuksesan di akhirat. Banyak pekerjaan dan prestasi yang sepertinya duniawi an, tetapi bila dijalankan dengan baik dan benar mulai dari niatnya hingga tata caranya- akan menjadi prestasi sekaligus tabungan amal di akhirat. Dengan teori seperti itu, sebenamya kebutuhan kita kepada prestasi-prestasi duniawi sangat besar, dalam rangka menambah tabungan untuk akhirat tersebut. Sebab, bila kita hanya ingin memperbanyak amal kebaikan dari jalur ibadah formal, akan banyak keterbatasan yang kita hadapi. Berapa banyakkah kita mampu berpuasa sunnah? Berapa ratus raka’atkah kita mampu sholat sunnah? Bukan berarti memperbanyak ibadah formal tidak kita kejar. Tetapi yang kita lakukan adalah menambahkah kepada amal ibadah formal tersebut amal duniawi yang bemilai amal akhirat. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan demikian, bila amal ibadah formal kita sedikit, akan menjadi banyak dengan prestasi duniawi itu. Dan, bila amal ibadah formal kita sudah banyak, akan semakin banyak dengan tambahan amal dan prestasi duniawi tersebut. Maka, alangkah benar definisi ibadah yang dinyatakan oleh imam Ibnu Taimiyah, “lelah apa yang diridhai Allah, dari perbuatan lahir dan batin. ”
Ada beberapa contoh prestasi dan amal duniawi yang bisa menjadi bagian dari prestasi akhirat:
1. Mencari mata pencarian Bagi sebagian orang yang mencari mala pencarian dan penghidupan (Ma’isyah) mungkin semata-mata hanya pekerjaan duniawi. Artinya, itu hanya soal mencari makan dan minum. Atau mencari sesuap dua suap nasi, selembar dua lembar uang, untuk dirinya, maupun keluarganya. Kita tidak boleh membatasi status pencarian penghidupan itu sebagai karya duniawi an-sich. Tetapi sebaliknya, kita harns menjadikannya sebagai bagian dari tabungan untuk kehidupan akhirat. Dengan teori seperti itu sebenamya kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus: sukses di dunia, dan insya Allah SWT sukses pula di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Diantara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh hajj, tetapi bisa dihapus dengan kelelahan mencari mala pencarian”. (HR. Thabrani). Bahkan, nafkah batin yang diberikan kepada istri sekalipun adalah tabungan untuk hari akhirat.
2. Mengalami musibah, seperti sakit dan semisalnya Musibah yang menimpa kita, seperti sakit, ditinggal mati orang-orang yang kita cintai, dan berbagai masalah hidup yang tidak enak mernpakan peristiwa yang menghiasi kehidupan dunia kita. Sebagian orang secara sempit menganggapnya sebatas kejadian-kejadian alamo Tetapi kita harus menjadikan semua itu tabungan untuk kehidupan akhirat kelak. Dengan cara menyabarkan diri, memohon balasan dari Allah SWT serta menyimpannya sebagai tabungan (ihtisab) di sisi-Nya. Pada saat yang sama kita berobat bila kita sakit, mencari jalan keluar bila ada kesulitan, serta berikhtiar menyelesaikan segala masalah dan musibah yang terjadi. Rasulullah SA W bersabda, “Tidaklah kesulitan dan sakit menimpa seorang muslim, tidak juga kegalauan, kesedihan, duka dan behan, hingga duri yang mengenai kakinya, kecuali menjadi penebus sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Said dan Abu Hurairah).
3. Menuntut Ilmu Salah satu karya dan prestasi duniawi yang dilakukan banyak orang adalah menuntut ilmu. Dari ilmu itu orang lantas memiliki beragam keahlian, yang dengannya ia menopang tuntutan hidupnya di dunia. Tetapi kita harus menjadikannya sebagai kesuksesan akhirat. Dengan cara bersabar menekuni ilmu yang kita tuntut hingga sampai pada taraf ahli, mengajarkan ilmu tersebut, serta memanfa’atkannya untuk maslahat Islam, kaum muslim in, secara kemanusiaan pada umumnya. Tak berlebihan, bila orang-orang yang berilmu, secara teori lebih bisa takut kepada Allah SWT. Tak berlebihan pula, bila Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan menuntut ilmu derajat yang tinggi.
4. Melakukan pekerjaan ‘ringan’ dan terkesan ’sepele’. Banyak pekerjaan duniawi yang terkesan kecil dan biasa. Tetapi ia sebenamya bisa menjadi tabungan amal di akhirat. Seperti meminggirkan duri dari jalanan. ltu pekerjaan sepele, tetapi dengan niat menabung amal di sisi Allah SWT, ia akan berubah menjadi amal shalih di sisi Allah SWT. Juga tersenyum kepada sesama saudara muslim, mengucapkan salam, mengasihi binatang. Rasulullah SA W pemah mengisahkan tentang wanita nakal yang di ampuni Allah SWT dan di masukan ke surga, setelah memberi air minum seekor anjing yang nyaris mati kelaparan. Akhimya wanita itu yang mati. Sebaliknya, dalam riwayat lain, dari Ibnu Umar, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan kisah tentang seorang wan ita yang masuk neraka karena mengerangkeng seekor kucing. Kucing itu tidak ia beri makan hingga mati.
5. Melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan memakmurkan bumi. Dalam beberapa ayat Allah SWT melarang kita melakukan kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah SWT menyuruh kita memakmurkan bumi, memanfa’atkan sebaik mungkin. Bumi dan segala yang ada di atasnya di peruntukkan Allah SWT bagi manusia. “Dialah Allah, yang manjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS Al-Baqoroh: 29). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. ” (QS Al-Mulk: 15). Karenanya, segala profesi dan prestasi yang terkait dengan memakmurkan bumi bisa bemilai tabungan amal shalih di akhirat kelak. Melindungi hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan kali, memaksimalkan kekayaan laut, mengeluarkan tambang di perot bumi, memperjuangkan proyek-proyek penjagaan lingkungan, melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat, juga memberdayakan potensi-potensi alam dengan tekhnologinya, demi maslahat kehidupan umat manusia adalah sedikit contoh dari memakmurkan bumi. Maka, siapa saja dari kaum muslim in yang menekuni profesi-profesi tersebut harus bangga dan bersyukur, karena mereka punya tempat menabung amal shalih yang besar untuk hari akhir kelak melalui profesi-profesi tersebut. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menjalaninya dengan ikhlas untuk Allah SWT dan dengan tata cara yang halal, serta mendukung profesi tersebut dengan kemampuan dan keahlian yang semestinya.
6. Melakukan pekerjaan yang dampak baiknya dirasakan banyak orang. Tabungan untuk hari akhirat juga bisa kita lakukan pada pekerjaan duniawi yang maslahatnya berpulang kepada orang lain, terutama bila orang itu dalam jumlah besar. Baik karena posisi pekerjaan itu strategis, atau memang secara langsung bersinggungan dan berurusan dengan orang banyak. Pemahkah kita menyadari betapa berharganya pekerjaan para tukang sampah? Bukankah jerih payah mereka mengangkuti sampah menjadikan ribuan orang merasa nyaman? Demikian juga pekerjaan lain, para dokter yang dengan berani mengunjungi wilayah-wilayah konflik dan perang untuk menyelamatkan ratusan nyawa, mengobati ribuan korban luka-Iuka. Atau mereka yang berada di tempat strategis yang berkait erat dengan maslahat orang banyak. Seperti pekerjaan anggota dewan yang menggolkan undang-undang tertentu bagi kebaikan umat, misalnya, seorang pemilik perusahaan yang mengkaryakan ribuan orang, begitu seterusnya. Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang prestasinya dinikmati masyarakat luas secara terns menerus tanpa putus asa. ltulah yang kita kenaI dengan ‘amal jariyah ‘. Seperti dalam istilah Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. ” Atau dalam bahasa al-Qur’an, beratnya timbangan amal tentu juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya amal. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. ” (QS Al-Qori ‘ah: 6- 7). Begitulah, semangat menabung untuk hari akhirat, harus kita cari dari segala kesibukan kita di dunia, tidak saja dengan ibadah formal. Dengan begitu kita bisa sebanyak mungkin menanam kebaikan. Barang siapa menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan. Nilai-nilai luhur itu pula yang di tanamkan Luqman AI-Hakim kepada anaknya tercinta, “Hai anakku sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan (balasan)nya. ” (QS Luqman 16). Semoga Allah SWT masih memberi kita kesempatan, untuk menabung sebanyak mungkin prestasi dan amal kebaikan...
Amiiiiin...
itulah kata yang sepantasnya kita ulang2 ketika kita mulai beraktifitas...
ada artikel menarik mengenai hal ini yg dapat menjadi inspirasi kita...
Sebagian orang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya terbelengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang bagus adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai bagian dari sukses di akhirat. Bahkan itulah sebenamya pola yang di inginkan oleh Islam. Bagaimana caranya?
Caranya dengan menjadikan semua aktifitas duniawi kita memiliki nilai-nilai kesuksesan di akhirat. Banyak pekerjaan dan prestasi yang sepertinya duniawi an, tetapi bila dijalankan dengan baik dan benar mulai dari niatnya hingga tata caranya- akan menjadi prestasi sekaligus tabungan amal di akhirat. Dengan teori seperti itu, sebenamya kebutuhan kita kepada prestasi-prestasi duniawi sangat besar, dalam rangka menambah tabungan untuk akhirat tersebut. Sebab, bila kita hanya ingin memperbanyak amal kebaikan dari jalur ibadah formal, akan banyak keterbatasan yang kita hadapi. Berapa banyakkah kita mampu berpuasa sunnah? Berapa ratus raka’atkah kita mampu sholat sunnah? Bukan berarti memperbanyak ibadah formal tidak kita kejar. Tetapi yang kita lakukan adalah menambahkah kepada amal ibadah formal tersebut amal duniawi yang bemilai amal akhirat. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan demikian, bila amal ibadah formal kita sedikit, akan menjadi banyak dengan prestasi duniawi itu. Dan, bila amal ibadah formal kita sudah banyak, akan semakin banyak dengan tambahan amal dan prestasi duniawi tersebut. Maka, alangkah benar definisi ibadah yang dinyatakan oleh imam Ibnu Taimiyah, “lelah apa yang diridhai Allah, dari perbuatan lahir dan batin. ”
Ada beberapa contoh prestasi dan amal duniawi yang bisa menjadi bagian dari prestasi akhirat:
1. Mencari mata pencarian Bagi sebagian orang yang mencari mala pencarian dan penghidupan (Ma’isyah) mungkin semata-mata hanya pekerjaan duniawi. Artinya, itu hanya soal mencari makan dan minum. Atau mencari sesuap dua suap nasi, selembar dua lembar uang, untuk dirinya, maupun keluarganya. Kita tidak boleh membatasi status pencarian penghidupan itu sebagai karya duniawi an-sich. Tetapi sebaliknya, kita harns menjadikannya sebagai bagian dari tabungan untuk kehidupan akhirat. Dengan teori seperti itu sebenamya kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus: sukses di dunia, dan insya Allah SWT sukses pula di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Diantara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh hajj, tetapi bisa dihapus dengan kelelahan mencari mala pencarian”. (HR. Thabrani). Bahkan, nafkah batin yang diberikan kepada istri sekalipun adalah tabungan untuk hari akhirat.
2. Mengalami musibah, seperti sakit dan semisalnya Musibah yang menimpa kita, seperti sakit, ditinggal mati orang-orang yang kita cintai, dan berbagai masalah hidup yang tidak enak mernpakan peristiwa yang menghiasi kehidupan dunia kita. Sebagian orang secara sempit menganggapnya sebatas kejadian-kejadian alamo Tetapi kita harus menjadikan semua itu tabungan untuk kehidupan akhirat kelak. Dengan cara menyabarkan diri, memohon balasan dari Allah SWT serta menyimpannya sebagai tabungan (ihtisab) di sisi-Nya. Pada saat yang sama kita berobat bila kita sakit, mencari jalan keluar bila ada kesulitan, serta berikhtiar menyelesaikan segala masalah dan musibah yang terjadi. Rasulullah SA W bersabda, “Tidaklah kesulitan dan sakit menimpa seorang muslim, tidak juga kegalauan, kesedihan, duka dan behan, hingga duri yang mengenai kakinya, kecuali menjadi penebus sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Said dan Abu Hurairah).
3. Menuntut Ilmu Salah satu karya dan prestasi duniawi yang dilakukan banyak orang adalah menuntut ilmu. Dari ilmu itu orang lantas memiliki beragam keahlian, yang dengannya ia menopang tuntutan hidupnya di dunia. Tetapi kita harus menjadikannya sebagai kesuksesan akhirat. Dengan cara bersabar menekuni ilmu yang kita tuntut hingga sampai pada taraf ahli, mengajarkan ilmu tersebut, serta memanfa’atkannya untuk maslahat Islam, kaum muslim in, secara kemanusiaan pada umumnya. Tak berlebihan, bila orang-orang yang berilmu, secara teori lebih bisa takut kepada Allah SWT. Tak berlebihan pula, bila Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan menuntut ilmu derajat yang tinggi.
4. Melakukan pekerjaan ‘ringan’ dan terkesan ’sepele’. Banyak pekerjaan duniawi yang terkesan kecil dan biasa. Tetapi ia sebenamya bisa menjadi tabungan amal di akhirat. Seperti meminggirkan duri dari jalanan. ltu pekerjaan sepele, tetapi dengan niat menabung amal di sisi Allah SWT, ia akan berubah menjadi amal shalih di sisi Allah SWT. Juga tersenyum kepada sesama saudara muslim, mengucapkan salam, mengasihi binatang. Rasulullah SA W pemah mengisahkan tentang wanita nakal yang di ampuni Allah SWT dan di masukan ke surga, setelah memberi air minum seekor anjing yang nyaris mati kelaparan. Akhimya wanita itu yang mati. Sebaliknya, dalam riwayat lain, dari Ibnu Umar, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan kisah tentang seorang wan ita yang masuk neraka karena mengerangkeng seekor kucing. Kucing itu tidak ia beri makan hingga mati.
5. Melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan memakmurkan bumi. Dalam beberapa ayat Allah SWT melarang kita melakukan kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah SWT menyuruh kita memakmurkan bumi, memanfa’atkan sebaik mungkin. Bumi dan segala yang ada di atasnya di peruntukkan Allah SWT bagi manusia. “Dialah Allah, yang manjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS Al-Baqoroh: 29). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. ” (QS Al-Mulk: 15). Karenanya, segala profesi dan prestasi yang terkait dengan memakmurkan bumi bisa bemilai tabungan amal shalih di akhirat kelak. Melindungi hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan kali, memaksimalkan kekayaan laut, mengeluarkan tambang di perot bumi, memperjuangkan proyek-proyek penjagaan lingkungan, melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat, juga memberdayakan potensi-potensi alam dengan tekhnologinya, demi maslahat kehidupan umat manusia adalah sedikit contoh dari memakmurkan bumi. Maka, siapa saja dari kaum muslim in yang menekuni profesi-profesi tersebut harus bangga dan bersyukur, karena mereka punya tempat menabung amal shalih yang besar untuk hari akhir kelak melalui profesi-profesi tersebut. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menjalaninya dengan ikhlas untuk Allah SWT dan dengan tata cara yang halal, serta mendukung profesi tersebut dengan kemampuan dan keahlian yang semestinya.
6. Melakukan pekerjaan yang dampak baiknya dirasakan banyak orang. Tabungan untuk hari akhirat juga bisa kita lakukan pada pekerjaan duniawi yang maslahatnya berpulang kepada orang lain, terutama bila orang itu dalam jumlah besar. Baik karena posisi pekerjaan itu strategis, atau memang secara langsung bersinggungan dan berurusan dengan orang banyak. Pemahkah kita menyadari betapa berharganya pekerjaan para tukang sampah? Bukankah jerih payah mereka mengangkuti sampah menjadikan ribuan orang merasa nyaman? Demikian juga pekerjaan lain, para dokter yang dengan berani mengunjungi wilayah-wilayah konflik dan perang untuk menyelamatkan ratusan nyawa, mengobati ribuan korban luka-Iuka. Atau mereka yang berada di tempat strategis yang berkait erat dengan maslahat orang banyak. Seperti pekerjaan anggota dewan yang menggolkan undang-undang tertentu bagi kebaikan umat, misalnya, seorang pemilik perusahaan yang mengkaryakan ribuan orang, begitu seterusnya. Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang prestasinya dinikmati masyarakat luas secara terns menerus tanpa putus asa. ltulah yang kita kenaI dengan ‘amal jariyah ‘. Seperti dalam istilah Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. ” Atau dalam bahasa al-Qur’an, beratnya timbangan amal tentu juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya amal. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. ” (QS Al-Qori ‘ah: 6- 7). Begitulah, semangat menabung untuk hari akhirat, harus kita cari dari segala kesibukan kita di dunia, tidak saja dengan ibadah formal. Dengan begitu kita bisa sebanyak mungkin menanam kebaikan. Barang siapa menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan. Nilai-nilai luhur itu pula yang di tanamkan Luqman AI-Hakim kepada anaknya tercinta, “Hai anakku sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan (balasan)nya. ” (QS Luqman 16). Semoga Allah SWT masih memberi kita kesempatan, untuk menabung sebanyak mungkin prestasi dan amal kebaikan...
Amiiiiin...
Become the Leader...Engineer...Entrepreneur (2)
Continue from prevoius similar subject...
Kadang ada orang yang bilang...
orang bisa jadi pengusaha karena
satu hal yaitu "terpaksa" terpaksa karena tidak ada
pilihan hidup sehingga hal yang lazim
pengusaha-pengusaha yang lahir banyak mempunyai latar
belakang kesulitan hidup (Do, yatim piatu, ngelamar
kerja tidak dapat-dapat,tidak puas atau tersisih dari
lingkungan kerja) ada ungkapan dari Pak Purdie Chandra
(pimpinan Primagama)yang merupakan pengalaman pribadi
beliau
"Mulailah bisnis di saat kita tidak punya apa-apa,
kita akan bermimpi tentang masa depan kita, tertantang
menggapainya dan berusaha keras untuk mewujudkannya"
lalu ada terpaksa terlahir dari keluarga kaya dan
biasa menikmati banyak fasilitas sehingga dia terpaksa
jadi pengusaha karena kalau jadi pegawai tidak akan
mencukupi kebutuhan materi dan batin juga. seperti
Anthony Salim terpaksa jadi pengusaha sebab kalau jadi
pegawai sepertinya tidak akan mencukupi kebutuhannnya.
banyak teman-teman yang merintis bisnis akhirnya
kembali bekerja... (bukan curhat pribadi lho..:) itu adalah
hal yang lumrah dan tidak berarti semangat mereka
berwirausaha padam.
ada pengalaman menarik dari Pak Yana Alumni Elektro
ITB (Direktur Quasar pengusaha alat wartel di Bandung)
beliau beberapa kali sejak kuliah merintis bisnis tapi
terus gagal dan bubar kelompok bisnisnya ketika mentok
beliau memilih kembali bekerja dan kuliah. dan itu
terus berulang-ulang beliau lakukan.
bisnis-bangkrut-kerja- bisnis-bubar-kuliah
berulang-ulang sampai akhirnya dia menemukan
peluangnya di bisnis telekomunikasi dan sukses.bahkan
kolonel sanders kalau ngk salah nih berhasil menemukan
resep n bisnis ayamnya di usia 53 tahun kalau ngk
salah ya...kalau kita janganlah keburu
mati.....he.he.he
bukan hanya Pak yana.pemilik jaringan kurir FeDex n
Repex Indonesia dahulunya juga adalah karyawan
perusahaan minyak. sadar bahwa usahanya masih merintis
dan butuh banyak investasi serta keuntungan belum
mencukupi, beliau bekerja sambil berwirausaha hampir 5
tahun dua hal itu beliau lakukan sampai akhirnya
beliau keluar dan memutuskan membuka usaha sendiri.
kuncinya mereka tetap memelihara dan memperluas
jaringan dengan rekan-rekan mereka sesama pengusaha
dulu serta terus belajar dan menggali informasi
peluang bisnis yang ada.dan tentu saja tetap punya
mimpi mempunyai usaha sendiri bukan menghabiskan usia
untuk menunggu perintah orang.
setuju ga setuju...ini hanya wacana...
cheers..
Kadang ada orang yang bilang...
orang bisa jadi pengusaha karena
satu hal yaitu "terpaksa" terpaksa karena tidak ada
pilihan hidup sehingga hal yang lazim
pengusaha-pengusaha yang lahir banyak mempunyai latar
belakang kesulitan hidup (Do, yatim piatu, ngelamar
kerja tidak dapat-dapat,tidak puas atau tersisih dari
lingkungan kerja) ada ungkapan dari Pak Purdie Chandra
(pimpinan Primagama)yang merupakan pengalaman pribadi
beliau
"Mulailah bisnis di saat kita tidak punya apa-apa,
kita akan bermimpi tentang masa depan kita, tertantang
menggapainya dan berusaha keras untuk mewujudkannya"
lalu ada terpaksa terlahir dari keluarga kaya dan
biasa menikmati banyak fasilitas sehingga dia terpaksa
jadi pengusaha karena kalau jadi pegawai tidak akan
mencukupi kebutuhan materi dan batin juga. seperti
Anthony Salim terpaksa jadi pengusaha sebab kalau jadi
pegawai sepertinya tidak akan mencukupi kebutuhannnya.
banyak teman-teman yang merintis bisnis akhirnya
kembali bekerja... (bukan curhat pribadi lho..:) itu adalah
hal yang lumrah dan tidak berarti semangat mereka
berwirausaha padam.
ada pengalaman menarik dari Pak Yana Alumni Elektro
ITB (Direktur Quasar pengusaha alat wartel di Bandung)
beliau beberapa kali sejak kuliah merintis bisnis tapi
terus gagal dan bubar kelompok bisnisnya ketika mentok
beliau memilih kembali bekerja dan kuliah. dan itu
terus berulang-ulang beliau lakukan.
bisnis-bangkrut-kerja- bisnis-bubar-kuliah
berulang-ulang sampai akhirnya dia menemukan
peluangnya di bisnis telekomunikasi dan sukses.bahkan
kolonel sanders kalau ngk salah nih berhasil menemukan
resep n bisnis ayamnya di usia 53 tahun kalau ngk
salah ya...kalau kita janganlah keburu
mati.....he.he.he
bukan hanya Pak yana.pemilik jaringan kurir FeDex n
Repex Indonesia dahulunya juga adalah karyawan
perusahaan minyak. sadar bahwa usahanya masih merintis
dan butuh banyak investasi serta keuntungan belum
mencukupi, beliau bekerja sambil berwirausaha hampir 5
tahun dua hal itu beliau lakukan sampai akhirnya
beliau keluar dan memutuskan membuka usaha sendiri.
kuncinya mereka tetap memelihara dan memperluas
jaringan dengan rekan-rekan mereka sesama pengusaha
dulu serta terus belajar dan menggali informasi
peluang bisnis yang ada.dan tentu saja tetap punya
mimpi mempunyai usaha sendiri bukan menghabiskan usia
untuk menunggu perintah orang.
setuju ga setuju...ini hanya wacana...
cheers..
Subscribe to:
Posts (Atom)